Jakarta, TERBITINDO.COM – Stabilitas harga di Provinsi Bali sepanjang 2025 menunjukkan kinerja yang solid dan terkendali. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi Bali pada Desember 2025 secara bulanan berada di angka 0,70 persen. Sementara itu, secara kumulatif sepanjang tahun 2025, inflasi Bali tercatat sebesar 2,91 persen, sebuah capaian yang masih berada dalam rentang sasaran inflasi nasional.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Bali, Erwin Soeriadimadja, menegaskan bahwa capaian tersebut mencerminkan kondisi inflasi yang sehat dan terjaga.
“Inflasi Bali pada Desember 2025 terjaga dalam sasaran 2,5±1 persen dan lebih rendah dibandingkan Nasional yang sebesar 2,92 persen (yoy),” ucap Erwin dalam keterangan tertulis yang diterima detikBali, Kamis (8/1/2026).
Inflasi Sejalan dengan Pertumbuhan Ekonomi Bali
Menurut Erwin, terkendalinya inflasi Bali tidak terlepas dari kinerja perekonomian daerah yang tetap tumbuh positif. Sepanjang 2025, pertumbuhan ekonomi Bali diprakirakan berada pada batas atas kisaran 5,0–5,8 persen. Kondisi ini menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi terus bergerak dinamis, namun tetap diiringi dengan pengendalian harga yang efektif.
Ia menjelaskan bahwa tekanan inflasi Bali terutama berasal dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau. Faktor utama pemicunya adalah keterbatasan pasokan, khususnya akibat curah hujan yang tinggi di sejumlah daerah sentra produksi pangan. Kondisi cuaca tersebut berdampak langsung pada hasil panen dan kelancaran distribusi.
Komoditas Penyumbang Inflasi Desember 2025
Secara lebih rinci, inflasi bulanan pada Desember 2025 dipicu oleh kenaikan harga beberapa komoditas utama. Cabai rawit dan bawang merah tercatat mengalami kenaikan harga yang cukup signifikan. Selain itu, biaya pemeliharaan atau service juga turut memberikan kontribusi terhadap inflasi pada periode tersebut.
Namun demikian, tekanan inflasi tidak meningkat lebih tinggi karena adanya penurunan harga sejumlah komoditas lain. Harga canang sari, kangkung, cabai merah, beras, serta tongkol diawetkan tercatat mengalami penurunan, sehingga mampu menahan laju inflasi secara keseluruhan.
Risiko Inflasi ke Depan Tetap Perlu Diwaspadai
Meski kondisi inflasi Bali saat ini dinilai terkendali, Erwin mengingatkan adanya sejumlah risiko yang perlu diantisipasi ke depan.
“Antara lain tingginya permintaan barang dan jasa pada periode libur tahun baru dan berlanjutnya kenaikan harga emas dunia,” ungkapnya.
Selain itu, puncak musim hujan juga menjadi faktor risiko yang tidak bisa diabaikan. Curah hujan yang tinggi berpotensi menurunkan produksi hortikultura, mengganggu distribusi logistik, serta meningkatkan risiko serangan hama dan organisme pengganggu tanaman. Kondisi tersebut dapat berdampak langsung pada pasokan pangan dan komoditas hortikultura di Bali.
Kewaspadaan Jelang Hari Besar Keagamaan
Erwin menekankan bahwa kewaspadaan harus terus dijaga, terutama dalam menghadapi periode hari besar keagamaan nasional serta libur panjang Idul Fitri dan Nyepi pada triwulan I 2026.
“Kewaspadaan tetap perlu dilakukan untuk mengawal stabilitas harga dalam menghadapi periode hari besar keagamaan nasional serta libur Idul Fitri dan Nyepi pada triwulan I 2026. Oleh karena itu, sinergi TPID perlu terus diperkuat dalam menjaga stabilitas harga komoditas pangan, khususnya beras dan hortikultura,” bebernya.
Strategi 4K Jadi Andalan Pengendalian Inflasi
Untuk mengantisipasi potensi tekanan inflasi, Bank Indonesia terus memperkuat sinergi dan inovasi bersama pemerintah kabupaten dan kota se-Bali. Upaya tersebut dilakukan melalui implementasi strategi 4K, yakni keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, serta komunikasi yang efektif kepada masyarakat.
Dalam kesempatan tersebut, Erwin juga menyampaikan apresiasi kepada Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) di seluruh pemerintah daerah se-Bali. Menurutnya, langkah-langkah yang konsisten dan terkoordinasi menjadi kunci utama terjaganya inflasi Bali sepanjang 2025.
Optimisme Menyongsong Inflasi 2026
Memasuki 2026, sinergi pengendalian inflasi akan semakin diperkuat. Langkah-langkah yang akan ditempuh antara lain intensifikasi operasi pasar, pengawasan dan percepatan penyaluran SPHP, serta penguatan produksi pangan dalam daerah. Selain itu, peningkatan efisiensi rantai pasok pangan, pembangunan ekosistem ketahanan pangan yang inklusif, hingga penguatan sinergi pengendalian inflasi pangan juga menjadi fokus utama.
“Dengan langkah-langkah strategis tersebut, Bank Indonesia Provinsi Bali optimis inflasi pada 2026 akan tetap terjaga dalam rentang sasaran nasional sebesar 2,5 persen ±1 persen,” kata Erwin. (JT)






