Pengurus Mundur, Parpol Bersyukur

by -1334 Views

Jakarta,TERBITINDO.COM – Pilihan politik setiap warga negara tentu berbeda-beda. Pengurus partai sekali pun bisa berubah. Hal tersebut terjadi setelah hati nuraninya tidak sejalan dengan keputusan partai. Fenomena ini mungkin akan banyak terjadi menjelang Tahun Politik 2024.

Jika mencari tahu alasan pengurus partai politik mengundurkan diri dari partainya tentu beragam. Namun, yang paling dominan bisa merujuk pada keputusan partai yang mendukung calon pemimpin yang tak sejalan dengan keinginan orang tersebut.

Seperti yang dilakukan beberapa pengurus Partai Nasdem yang mengundurkan diri setelah mendeklarasikan Anies Baswedan sebagai Capres 2024. Di antaranya Andreas Acui Simanjaya dari Kalimantan Barat dan Niluh Djelantik (Kompas.com, 4/10/2022).

Apa yang dilakukan pengurus tersebut merupakan sebuah kelaziman dalam politik. Sesuatu yang biasa dalam demokrasi. Beberapa nama beken seperti mantan Gubernur Nusa Tenggara Barat
Zainul Majdi yang dikenal dengan sebutan Tuan Guru Bajang (TGB) mengundurkan diri dari Demokrat. Ia kemudian mendukung Jokowi pada Pilpres 2019. Hari ini, Demokrat masih eksis dan tetap berkembang.

Contoh ini mengkonfirmasi, bahwa pengurus yang mengundurkan diri tidak serta-merta mengurangi eksistensi partai tersebut. Tidak menimbulkan dampak negatif. Bahkan sebaliknya, kader tersebut belum tentu dapat tempat atau bisa berkembang di partai baru.

Dengan demikian keputusan kader yang keluar dari Nasdem tidak akan berdampak pada eksistensi Nasdem. Justru sebaliknya, tak sedikit masyarakat yang simpatik bahkan menjadi anggota Nasdem.

Wasekjen NasDem Hermawi Taslim menyebut sejak deklarasi Anies Baswedan, setiap hari selalu ada penambahan keanggotaan Partai Nasdem. Tercatat sudah 3.601 orang melalui sistem e-KTA, (detiknews, 4/10/2022).

Keputusan Tepat

Langkah mengundurkan diri kader Nasdem merupakan sebuah keputusan tepat. Karena jika tidak, mungkin akan menjadi duri dalam daging. Karena Nasdem butuh kader yang loyal, setia dan konsisten pada keputusan partai politik.

Lagipula, sebagai politisi mesti paham betul bahwa keputusan partai politik tentu ada sisi positif dan negatif. Tidak bisa memuaskan semua kader. Pengambilan keputusan tidak dilakukan dalam waktu singkat secara pragmatis. Namun berdasarkan pertimbangan matang. Tujuannya hanya untuk kepentingan bangsa dan negara.

Pada posisi tersebut partai politik tidak bisa mengintervensi. Nasdem tak punya hak untuk menolak keputusan kadernya. Apa pun pilihan kadernya harus diterima. Karena keputusan tersebut merupakan hak konstitusional setiap warga untuk bebas memilih partai politik.

Dengan demikian, Nasdem harus bersyukur atas pilihan kadernya yang telah mengundurkan diri. Karena dengan begitu, Nasdem bisa mengetahui karakter dan mengukur loyalitas kadernya. Jika dibiarkan atau permohonan ditolak, itu sama saja memelihara kucing dalam karung.

Keputusan Nasdem memilih Anies Baswedan sebagai Capres 2024 harus dilihat dari berbagai sudut pandang. Karena keputusan tersebut tak saja membawa dampak negatif, yang berakibat mundurnya beberapa kader.

Namun dibalik itu, keputusan ini juga membawa berkah. Sebagai partai besar, Nasdem tentu sudah memikirkan dampak positifnya yakni bertambahnya anggota Nasdem. Hal tersebut bisa dilihat dari komentar netizen di berbagai platform media sosial. Ada banyak warga negara yang justru jatuh hati dengan Nasdem. Mereka siap memenangkan Anies Baswedan sebagai Presiden dan memilih Caleg Nasdem pada Pileg 2024.

Ervan Tou
Ketua Laskar AMAN (Angkatan Muda Anies Baswedan)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.