Buku Perdana Lembaga Pemberdayaan Perempuan PMKRI Resmi Diluncurkan pada Dies Natalis ke-79

by -95 Views

Jakarta,TERBITINDO.COM – Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) menorehkan sejarah baru dalam peringatan Dies Natalis ke-79. Bertepatan dengan puncak perayaan organisasi (29 Mei 2026), PMKRI resmi meluncurkan buku perdana yang diterbitkan oleh Lembaga Pemberdayaan Perempuan (LPP) PMKRI berjudul Merawat Api, Menggerakkan Negeri: Catatan Kepemimpinan dan Pengabdian Publik.

Buku tersebut merupakan hasil inisiasi Ketua Lembaga Pemberdayaan Perempuan PMKRI, Kristina Elia Purba, yang menghadirkan gagasan serta pengalaman kepemimpinan dari 13 perempuan Indonesia yang berkiprah di berbagai sektor strategis.

Peluncuran buku ini menjadi tonggak penting dalam perjalanan organisasi, sekaligus menandai lahirnya buku pertama yang diterbitkan oleh Lembaga Pemberdayaan Perempuan PMKRI sejak lembaga tersebut berdiri.

Kristina Elia Purba mengatakan bahwa buku ini lahir dari keyakinan bahwa perempuan memiliki peran strategis dalam menjaga arah demokrasi sekaligus membangun masa depan bangsa.

“Buku ini bukan sekadar kumpulan tulisan, tetapi sebuah ikhtiar bersama untuk merawat nilai-nilai kebangsaan, memperkuat demokrasi, dan menghadirkan kepemimpinan perempuan yang berakar pada integritas, keberanian, serta pengabdian kepada masyarakat,” ujar Kristina.

Kepemimpinan Perempuan sebagai Kekuatan Bangsa

Melalui 13 tulisan, buku ini menghadirkan perspektif para perempuan yang terlibat langsung dalam berbagai ruang pengabdian, mulai dari organisasi kemasyarakatan, gerakan masyarakat sipil, lembaga swadaya masyarakat nasional maupun internasional, Badan Usaha Milik Negara (BUMN), pemerintahan, dunia politik, parlemen, hingga senat.

Mereka tidak hanya menjadi pengamat dinamika bangsa, tetapi juga pelaku yang berkontribusi dalam penyusunan kebijakan publik, pembangunan institusi, serta pemberdayaan masyarakat.

Judul Merawat Api, Menggerakkan Negeri merepresentasikan semangat menjaga “api” ideologis berupa kesetiaan terhadap konstitusi, keberpihakan pada keadilan sosial, serta keyakinan bahwa kekuasaan harus dijalankan sebagai amanah bagi kepentingan rakyat.

Di tengah tantangan demokrasi yang diwarnai pragmatisme politik, polarisasi sosial, dan praktik transaksional, buku ini mengajak publik untuk mengembalikan politik sebagai ruang pengabdian yang berlandaskan etika, nilai, dan kepentingan bersama.

“Merawat api berarti menjaga agar cita-cita kebangsaan tidak pernah padam. Menggerakkan negeri berarti menghadirkan keberanian untuk mengambil bagian dalam setiap ruang pengambilan keputusan tanpa kehilangan idealisme,” tulis Kristina dalam pengantar buku tersebut.

Lebih jauh, buku ini menegaskan bahwa perjuangan perempuan tidak berhenti pada aspek representasi politik semata. Kehadiran perempuan dinilai semakin menentukan dalam merancang kebijakan yang inklusif, memperjuangkan keadilan sosial, memperkuat ekonomi kerakyatan, hingga membangun gerakan sosial yang mampu menjaga akuntabilitas kekuasaan.

Buku ini juga memandang pembangunan bangsa tidak hanya diukur dari pertumbuhan ekonomi maupun stabilitas politik, tetapi juga dari kualitas kepemimpinan moral serta keberanian kolektif menjaga arah perjalanan bangsa.

Ketiga belas penulis dalam buku ini merepresentasikan estafet kepemimpinan lintas generasi. Mereka menjadi mata rantai yang meneruskan nilai, integritas, dan visi kebangsaan agar tetap hidup dalam organisasi, masyarakat sipil, dunia usaha, maupun ruang-ruang pengambilan kebijakan.

“Api itu harus terus dijaga. Dari tangan-tangan yang setia merawatnya, negeri ini akan terus bergerak menuju masa depan yang lebih adil, inklusif, demokratis, dan bermartabat,” demikian salah satu pesan utama yang diusung buku tersebut.

Mendapat Apresiasi Tokoh Nasional

Penerbitan buku perdana Lembaga Pemberdayaan Perempuan PMKRI mendapat sambutan positif dari berbagai tokoh nasional. Sebanyak 12 tokoh memberikan testimoni dan apresiasi atas kehadiran buku ini sebagai kontribusi penting bagi penguatan kepemimpinan perempuan dan pembangunan bangsa.

Mereka adalah Dr. A. Setyo Wibowo, SJ. (Akademisi dan Dosen STF Driyarkara Jakarta), Dr. Paulus Januar, drg., M.Si., CMC (Ketua Presidium PP PMKRI 1985–1988), Leonardo J. Renyut (Ketua Presidium PP PMKRI 1992–1994), Emanuel Melkiades Laka Lena (Gubernur Nusa Tenggara Timur 2024–2029), Kikin P. Tarigan S. (Komisioner Komisi Nasional Disabilitas 2021–2026), Robert Na Endi Jaweng (Pimpinan Ombudsman Republik Indonesia), Stefanus Asat Gusma (Ketua Presidium PP PMKRI 2009–2011), Juventus Prima Yoris Kago (Bupati Sikka 2025–2030), Puteri Anetta Komarudin (Anggota DPR RI), dr. Karolin Margret Natasa, M.H. (Bupati Landak), Antonius Doni Dihen (Bupati Flores Timur), serta Dra. Hendra Henny Andries (Purnawirawati Minister Counsellor Kementerian Luar Negeri).

Para tokoh tersebut menilai buku ini menjadi kontribusi intelektual yang penting dalam memperkuat ruang kepemimpinan perempuan Indonesia sekaligus menjadi referensi bagi generasi muda yang ingin berkontribusi dalam kehidupan demokrasi dan pembangunan nasional. ***

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.