Di Tengah Luka Bencana, Asa Tetap Menyala: Pesan Mendikdasmen pada Hari Pertama Sekolah di Aceh Tamiang

by -10 Views

Jakarta, TERBITINDO.COM – Hari pertama sekolah menjadi momentum penuh makna bagi para siswa di Kabupaten Aceh Tamiang, khususnya mereka yang berada di wilayah terdampak bencana. Di tengah kondisi yang belum sepenuhnya pulih, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti hadir memberikan semangat dan harapan, sekaligus menegaskan bahwa keterbatasan fisik tidak boleh memadamkan mimpi dan cita-cita generasi muda.

Dalam amanatnya sebagai Inspektur Upacara di SMAN 4 Kajuruhan Muda, Aceh Tamiang, yang disiarkan secara langsung pada Senin (5/1/2026), Mu’ti menyampaikan pesan khusus kepada para siswa agar tetap menatap masa depan dengan penuh optimisme. Ia menekankan bahwa bencana yang terjadi tidak seharusnya menjadi penghalang untuk bermimpi besar dan berjuang meraih pendidikan yang lebih baik.
“Saya mengajak anak-anakku sekalian untuk tetap semangat untuk tetap bercita-cita yang tinggi,” kata Mu’ti dengan penuh penekanan.

Pesan tersebut disampaikan seiring dimulainya kembali aktivitas belajar mengajar secara normal di Aceh Tamiang. Meski sejumlah sekolah masih menghadapi keterbatasan sarana dan prasarana akibat bencana, pemerintah memastikan bahwa proses pendidikan tidak boleh terhenti. Menurut Mu’ti, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) terus berupaya agar seluruh pelajar di wilayah terdampak dapat kembali bersekolah dengan layak, melalui perbaikan fasilitas dan pemenuhan berbagai kebutuhan pendidikan.

Namun demikian, ia juga mengingatkan bahwa semangat belajar harus tetap dijaga, meskipun kondisi sekolah belum sepenuhnya ideal. Dalam keterbatasan, daya juang dan tekad siswa justru diuji.
“Kalau toh mungkin meja kursi itu. Belum bisa dipergunakan belajar di lantai pun jadi. Karena semangat itu mampu melampaui semua keterbatasan cita-cita itu mampu melampaui semua kekurangan,” ujarnya.
Pernyataan tersebut menjadi penguat bahwa esensi pendidikan tidak semata terletak pada fasilitas, tetapi pada kemauan untuk terus belajar dan berkembang.

Mu’ti kembali menegaskan pentingnya menjaga semangat belajar dan keberanian untuk bermimpi, khususnya bagi para siswa yang terdampak bencana. Ia berharap, semangat tersebut dapat menjadi fondasi kuat dalam membangun masa depan, baik bagi diri sendiri maupun bagi daerahnya.

Di sisi lain, Kemendikdasmen juga berkomitmen untuk mempercepat pemulihan sekolah-sekolah yang terdampak bencana melalui dukungan kebijakan dan anggaran. Mu’ti mengungkapkan bahwa pada tahun anggaran 2026, pemerintah akan mengalokasikan dana khusus untuk membantu proses pemulihan tersebut.
“Kami di Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah berusaha untuk mengalokasikan anggaran terutama untuk sekolah-sekolah yang memang sekarang ini masih dalam proses pemulihan dari berbagai macam musibah dari berbagai macam kerusakan,” ungkapnya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa revitalisasi sekolah-sekolah yang mengalami kerusakan akan menjadi prioritas utama. Program ini diharapkan dapat menghadirkan ruang belajar yang lebih layak dan aman bagi para siswa, sehingga proses pendidikan dapat berjalan dengan lebih optimal ke depannya.
“Sekolah-sekolah yang rusak kita prioritaskan untuk mendapatkan dana revitalisasi tahun anggaran 2026 yang akan datang. Dan mudah-mudahan dengan itu semua kalian akan memiliki ruang belajar yang lebih baik, ruang belajar yang baru,” pungkas Mu’ti.

Melalui pesan-pesan tersebut, hari pertama sekolah di Aceh Tamiang tidak hanya menjadi tanda dimulainya kembali aktivitas belajar, tetapi juga simbol kebangkitan semangat dan harapan. Di tengah keterbatasan akibat bencana, pendidikan tetap menjadi cahaya yang menuntun langkah generasi muda menuju masa depan yang lebih baik. (JT)