RSUD Aceh Tamiang Bangkit Perlahan Pascabanjir: Deretan Penyakit Anak yang Masih Harus Dirujuk

by -17 Views

Jakarta, TERBITINDO.COM – Pascabanjir bandang yang melanda Kabupaten Aceh Tamiang pada akhir November lalu, RSUD Aceh Tamiang di Provinsi Aceh perlahan mulai bangkit. Sejak 9 Desember 2025, rumah sakit milik pemerintah daerah itu kembali membuka layanan kesehatan. Namun, pemulihan yang dilakukan belum sepenuhnya tuntas. Keterbatasan fasilitas dan layanan medis membuat RSUD Aceh Tamiang belum mampu menangani seluruh kasus, khususnya pada pasien anak dengan kondisi tertentu yang berisiko tinggi.

Situasi tersebut membuat rujukan ke rumah sakit lain yang lebih lengkap fasilitasnya menjadi langkah yang tak terhindarkan. Hal ini disampaikan oleh dr. Arifin K. Kashmir, SpA., Mkes., Sp2 Gastroenterologi Anak, anggota Ikatan Alumni Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (ILUNI FKUI) yang terjun langsung sebagai relawan di RSUD Aceh Tamiang sejak 27 Desember 2025. Saat dihubungi beberapa waktu lalu, ia menjelaskan bahwa rujukan dilakukan semata-mata demi keselamatan pasien.

“Rujukan pada pasien anak dilakukan pada kondisi penyakit yang memiliki risiko tinggi, prognosis yang buruk, membutuhkan keahlian sub-spesialistik, atau membutuhkan fasilitas lanjutan,” ujar dr. Arifin. Hingga kini, sejumlah layanan penting memang belum tersedia secara optimal di RSUD Aceh Tamiang, sehingga penanganan kasus-kasus tertentu belum memungkinkan dilakukan di sana.

Kondisi pertama yang mengharuskan pasien anak dirujuk adalah gangguan pernapasan berat. Anak dengan pneumonia berat, sesak napas signifikan, hingga gagal napas atau ancaman gagal napas yang memerlukan alat bantu napas seperti ventilator atau CPAP (Continuous Positive Airway Pressure) tidak dapat ditangani secara maksimal di RSUD Aceh Tamiang. “Saat ini, fasilitas perawatan intensif dengan oksigenasi sentral itu belum sepenuhnya memadai, sehingga keamanan pasien akan lebih terjamin bila dirawat di rumah sakit rujukan dengan fasilitas tersebut,” jelas dr. Arifin.

Selain gangguan pernapasan, dehidrasi berat dan kondisi serupa juga menjadi alasan rujukan. Anak yang mengalami dehidrasi berat disertai gangguan elektrolit, gangguan keseimbangan basa tubuh, atau gangguan garam tubuh—seperti pada kasus diare berat dengan dehidrasi berat, syok hipovolemik, dan gangguan elektrolit—memerlukan pemantauan ketat. Kondisi ini menuntut pemeriksaan laboratorium berulang dan spesifik. Menurut dr. Arifin, semua itu membutuhkan monitoring intensif serta fasilitas laboratorium yang stabil. “Kemampuan di RSUD Aceh Tamiang pada saat ini belum bisa. Tetapi, pada saat nanti mungkin revitalisasinya sudah bagus, insya Allah bisa melakukan itu lagi,” tuturnya.

Rujukan juga dilakukan pada pasien anak dengan penyakit metabolik dan endokrin akut, seperti ketoasidosis diabetik atau gangguan metabolik akut lainnya. Kondisi ini membutuhkan pengobatan yang ditangani oleh tim sub-spesialis serta ketersediaan obat-obatan tertentu yang harus diberikan secara rutin. “Dalam hal ini, perlu pengobatan dengan tim ahli sub-spesialistik ataupun dalam konteksnya obat-obatan yang secara rutin disuntikkan, yang pada saat kami evaluasi juga belum tersedia di RSUD Aceh Tamiang,” ungkap dr. Arifin.

Tak kalah penting, anak dengan gangguan saraf berat juga masuk dalam kategori pasien rujukan. Gangguan kesadaran, kejang berulang, kejang yang sulit dikontrol, penurunan kesadaran, hingga kecurigaan infeksi pada susunan saraf pusat membutuhkan pemantauan neurologis lanjutan. Penanganan kasus-kasus tersebut sering kali memerlukan intervensi spesifik dari sub-spesialis neurologi anak, yang saat ini belum dapat difasilitasi secara optimal di RSUD Aceh Tamiang.

Kelompok lain yang mendapat perhatian khusus adalah bayi berisiko tinggi. Bayi baru lahir dengan gangguan pernapasan, infeksi berat, atau berat badan lahir sangat rendah membutuhkan perawatan neonatal intensif. “Bayi perlu perawatan neonatal intensif, dalam hal ini kan perlu tim dan fasilitas, yang mana kendala fasilitas ini masih menjadi satu situasi yang kami hadapi,” kata dr. Arifin. Ia menambahkan, fasilitas NICU yang memadai belum beroperasi, peralatan belum tersedia dengan baik, dan oksigen sentral juga belum ada. “Rujukan dilakukan untuk menjamin keselamatan bayi, bukan hanya sekadar memindahkan pasien ke rumah sakit yang lebih mampu,” lanjutnya.

Selain itu, kasus bedah anak dan trauma kompleks, termasuk cedera akibat bencana dengan kondisi yang rumit, juga harus dirujuk. Penanganan kasus seperti ini memerlukan dokter bedah anak serta pemantauan pascatindakan yang intensif. “Pemantauan pascatindakan dengan kondisi operasi berat itu biasanya membutuhkan ruang intensif,” kata dr. Arifin, seraya menegaskan bahwa keterbatasan fasilitas saat ini menjadi pertimbangan utama dalam pengambilan keputusan rujukan.

Meski dihadapkan pada berbagai keterbatasan, upaya pemulihan RSUD Aceh Tamiang terus berjalan. Harapannya, seiring dengan revitalisasi fasilitas dan layanan, semakin banyak kasus yang nantinya dapat ditangani langsung di rumah sakit tersebut, sehingga masyarakat Aceh Tamiang tidak lagi harus bergantung pada rujukan ke daerah lain untuk mendapatkan layanan kesehatan yang optimal. (JT)