Menembus Hujan dan Ancaman Longsor: Keteguhan Tim SAR Brimob Ruteng di Desa Goreng Meni

by -5 Views

Jakarta, TERBITINDO.COM – Cuaca ekstrem yang melanda wilayah Manggarai Timur tak sedikit pun melunakkan tekad Tim SAR Brimob Kompi II B Pelopor Ruteng. Di tengah hujan yang turun tanpa jeda, angin sakal yang menusuk, jalanan licin, tanah yang terus bergerak, serta ancaman longsor susulan di setiap tikungan, mereka tetap melangkah. Di bawah komando Danki Brimob Kompi 2 Yon B Pelopor, Iptu Soleman W. Talo, S.H., tim ini hadir membawa lebih dari sekadar peralatan evakuasi. Mereka membawa harapan bagi warga Desa Goreng Meni yang terjebak dalam kepungan lumpur, gelap tanpa penerangan, keterbatasan logistik, serta kecemasan yang terus membayangi sejak bencana melanda.

Kehadiran Tim SAR Brimob bukanlah pawai penuh protokoler atau sorotan kamera. Iptu Soleman bersama tim kecilnya datang dengan kesederhanaan, menyusuri medan berlumpur dengan langkah tenang namun penuh kewaspadaan. Mereka menyapa warga satu per satu, mendengarkan keluh kesah yang terpendam di balik wajah-wajah letih dan mata yang menyimpan ketakutan. Di tengah kondisi yang serba terbatas dan berbahaya, keberadaan mereka menjelma bukan sekadar simbol komando, melainkan penegasan nyata bahwa negara benar-benar hadir, berdiri di sisi warga, dan tidak meninggalkan mereka sendirian menghadapi amukan alam.

Perjalanan Panjang Menuju Lokasi Longsor

Pada Jumat pagi, 23 Januari 2026, tepat pukul 08.00 Wita, Tim SAR Brimob Kompi 2 Yon B Pelopor bersiap meninggalkan Ruteng menuju lokasi longsor di Kampung Tuwa dan Kampung Pau, Desa Goreng Meni, Kecamatan Lamba Leda. Apel singkat yang dipimpin langsung oleh Danki Brimob, Iptu Soleman W. Talo, S.H., menjadi penanda dimulainya misi kemanusiaan yang penuh risiko.

Tak sampai sepuluh menit setelah bergerak, hujan turun semakin deras. Jalanan licin bercampur lumpur, beberapa ruas tergerus longsor, memaksa kendaraan melaju perlahan dengan kewaspadaan penuh. Di sejumlah titik, tim harus ekstra hati-hati agar tak terperosok atau terjebak. Waktu seakan berjalan lebih lambat. Perjalanan panjang dan melelahkan itu akhirnya berujung setelah lebih dari lima jam di jalan. Pada pukul 13.20 Wita, Tim SAR Brimob tiba di lokasi bencana, disambut hamparan lumpur, timbunan tanah longsor, serta tatapan penuh harap dari warga yang sejak pagi menanti uluran tangan.

Komitmen Negara di Tengah Bencana

Di tengah kondisi yang masih jauh dari kata aman, Iptu Soleman W. Talo, S.H., menegaskan komitmen timnya. Dengan suara tenang namun sarat keteguhan, ia menyampaikan bahwa kehadiran mereka bukan sekadar menjalankan tugas rutin.
“Kami datang bukan hanya membawa perlengkapan, tetapi juga tanggung jawab. Tugas kami satu, memastikan negara benar-benar hadir di tengah warga yang sedang menghadapi bencana,” kata Iptu Soleman.

Pernyataan itu seolah menjadi penguat bagi warga dan seluruh personel di lapangan. Di tengah hujan dan lumpur, kalimat tersebut menegaskan bahwa misi ini adalah tentang kemanusiaan, bukan sekadar prosedur.

Pencarian di Bawah Hujan Deras

Pencarian korban longsor dimulai pada pukul 13.45 Wita. Hujan kembali mengguyur deras ketika Tim SAR Brimob bergabung dengan personel Polres Manggarai Timur, Babinsa, serta warga setempat. Mereka menyusuri timbunan tanah dan lumpur yang masih basah, setiap langkah diambil dengan kehati-hatian tinggi. Tanah di bawah pijakan belum sepenuhnya stabil, dan risiko longsor susulan selalu mengintai.

Namun, keselamatan tetap menjadi prioritas utama. Sekitar pukul 15.20 Wita, upaya pencarian terpaksa dihentikan sementara. Atas pertimbangan keamanan, Wakil Bupati Manggarai Timur memutuskan penghentian pencarian setelah menerima laporan BPBD terkait curah hujan yang terus meningkat dan kondisi tanah yang masih sangat labil. Dalam hujan lebat dan kabut yang mulai turun, tim penyelamat menepi, menunggu kedatangan alat berat dari Dinas PUPR Manggarai Timur untuk membuka akses dan meminimalkan risiko.

Duka, Isolasi, dan Harapan yang Tersisa

Di balik tertundanya pencarian, Kampung Tuwa masih terkurung isolasi. Akses jalan tertutup total oleh material longsoran, memutus mobilitas warga dan distribusi bantuan. Suasana duka semakin terasa setelah kabar wafatnya Abina Ria (54), salah satu korban longsor yang sempat mendapat perawatan di Puskesmas Benteng Jawa, namun meninggal dunia pada Jumat dini hari pukul 02.05 Wita.

Hingga sore menjelang, dua nama terus dipanjatkan dalam doa dan harapan warga: Theresia Resim (45) dan Yustina Mira (18), yang masih belum ditemukan. Di tengah hujan, gelap, dan keterbatasan, Tim SAR Brimob tetap bertahan di sekitar lokasi. Dengan peralatan seadanya dan tekad yang tak surut, mereka bersiaga menunggu pagi, saat pencarian akan kembali dilanjutkan—membawa secercah harapan di antara lumpur dan tanah yang belum sepenuhnya stabil.

Suara Warga di Tengah Kepungan Lumpur

Di sela hujan, angin, dan lumpur yang mengurung kampung, suara warga perlahan terdengar. Alvian Rudu, salah seorang warga Desa Goreng Meni, tak mampu menyembunyikan rasa harunya melihat kehadiran Tim SAR Brimob di tengah kondisi serba sulit.

Baginya, kehadiran aparat bukan sekadar bantuan teknis, melainkan penopang mental bagi warga yang diliputi kecemasan dan ketidakpastian. “Luar biasa, Om. Kami benar-benar merasa tidak sendiri,” tutur Alvian saat dihubungi media ini.

Namun di balik rasa syukur itu, terselip harapan yang belum sepenuhnya terjawab. Pandangannya tertuju pada timbunan tanah longsor yang masih menutup akses kampung, menyadarkan bahwa tenaga manusia memiliki batas. “Hanya mungkin yang masih kurang, belum ada alat berat,” pungkasnya pelan.

Ungkapan sederhana tersebut mencerminkan kegelisahan sekaligus harapan warga—bahwa di tengah hujan, lumpur, dan penantian panjang, pertolongan masih terus diharapkan datang tepat waktu.

(JT)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.