Dengan Syukur dan Ketaatan, Mgr Paskalis Lepas Jabatan

by -7 Views

Jakarta, TERBITINDO.COM – Sebuah babak penting dalam perjalanan Gereja Katolik di Keuskupan Bogor resmi berakhir. Mgr Paskalis Bruno Syukur, O.F.M., menyatakan pengunduran dirinya dari jabatan sebagai Uskup Keuskupan Bogor, sebuah keputusan yang telah diterima secara resmi oleh Takhta Suci Vatikan. Seiring dengan itu, Vatikan menunjuk Mgr Christophorus Tri Harsono sebagai Administrator Apostolik Keuskupan Bogor untuk memastikan kesinambungan pelayanan pastoral dan tata kelola gerejawi.

Keputusan tersebut diumumkan secara resmi dalam sebuah pertemuan gerejawi yang berlangsung pada Senin, 19 Januari 2026. Dalam suasana yang sarat makna rohani, Mgr Paskalis membacakan surat pengunduran dirinya, bukan sebagai ungkapan duka, melainkan sebagai kesaksian iman dan ketaatan.

“Saya berdiri di hadapan anda bukan dengan hati yang berat melainkan dengan jiwa yang penuh bersyukur.”

Kalimat pembuka itu seolah menjadi benang merah yang merangkai seluruh refleksi dan pesan perpisahan yang ia sampaikan. Ia tidak memulai dengan pembelaan diri, melainkan dengan syukur—sebuah sikap batin yang, menurutnya, lahir dari kesadaran bahwa Gereja bukan milik manusia, melainkan sepenuhnya milik Kristus.

Dalam refleksinya, Mgr Paskalis kembali mengenang moto episkopal yang selama ini menjadi pegangan hidup dan pelayanannya.

“Saya ingat moto sebagai uskup Magnificat Anima Mea Dominul. Gereja adalah milik Kristus dan kita semua hanyalah hamba yang coba melakukan tugas kita,” ucap Monsinyur Paskalis.

Ia mengungkapkan bahwa pengunduran dirinya telah diterima oleh “Bapak Suci”, sebuah peristiwa yang ia maknai bukan sekadar keputusan administratif, melainkan pengalaman mistik yang mendalam. Meski mengakui tidak sepenuhnya memahami seluruh dinamika yang terjadi, ia melihat semuanya sebagai bagian dari rencana ilahi yang sedang dirajut Tuhan dalam keheningan.

Mengutip Rasul Paulus tentang menyelesaikan pertandingan dengan setia dan memelihara iman, Mgr Paskalis menegaskan keyakinannya bahwa di balik setiap keputusan manusiawi, selalu ada tangan Tuhan yang bekerja.

“Saya menerima ini dengan sukacita batin karena ketaatan kepada tah tahta suci,” tuturnya dengan nada mantap.

Klarifikasi Polemik: Antara Fakta, Tanggung Jawab, dan Kebenaran

Dalam kesempatan yang sama, Mgr Paskalis juga menyampaikan klarifikasi atas sejumlah polemik yang sempat mencuat selama masa kepemimpinannya di Keuskupan Bogor. Ia menegaskan bahwa klarifikasi ini bukan bentuk pembelaan diri, melainkan tanggung jawab pribadi, baik sebagai individu maupun sebagai gembala umat.

Pertama, terkait misi Gereja di Lebak dan keberadaan suster SFS. Ia menyesalkan adanya pemberitaan negatif yang, menurutnya, tidak berpijak pada fakta dan kerap menyederhanakan persoalan misi Gereja Katolik di wilayah tersebut. Ia menegaskan bahwa keputusan yang diambil merupakan bagian dari upaya reorganisasi demi keberlanjutan misi yang lebih sehat dan berkeadilan.

“Saya berusaha berdiri di atas fakta kebenaran berkaitan dengan misi kita di Lebak dan keadilan suster SFS disana walaupun yang terakhir dari dua imam kita itu mengatakan ada pengusiran,” tegasnya.

“Itu ungkapan yang tidak berdasarkan fakta tapi itu disebarluaskan, maka saya mau menyampaikan di tempat ini mohon itu ditarik kembali, dan saya sudah minta maaf dengan suster SFS,” lanjutnya.

Kedua, mengenai kondisi keuangan Keuskupan Bogor. Ia membantah tegas isu kebangkrutan yang sempat beredar, sekaligus menepis tudingan penyalahgunaan dana keuskupan.

“Isu ciptaan bahwa saya menggunakan uang keuskupan untuk keluarga atau orang lain sudah tidak terbukti,” katanya.

“Itu terbukti dengan kondisi finansial di Keuskupan Bogor tetap terjaga dan stabil,” pungkasnya.

Ketiga, menyangkut relasi personal dan tata kelola keuskupan. Ia menegaskan bahwa setiap kerja sama yang dibangun selalu berlandaskan profesionalitas demi kemajuan bersama, meskipun niat baik kerap disalahpahami.

“Seringkali niat baik di salah pahami namun saya berpegang teguh pada profesionalitas,” ujarnya.

Keempat, terkait dinamika presbiterium, unio, dan kuria. Ia mengakui bahwa kepemimpinan sering kali menjadi jalan yang sunyi. Perombakan kuria yang ia lakukan demi penguatan struktur justru dipersepsikan keliru oleh sebagian pihak.

Namun, di tengah kesunyian itu, ia berpegang pada firman penguatan.

“Namun saya teringat akan ini janganlah takut sebab aku menyertai engkau aku akan memegang engkau dengan tangan kananku yang membawa kemenangan.”

“Kemenangan yang saya maksud bukanlah jabatan melainkan keteguhan prinsip kepentingan kebaikan keuskupan daripada kepentingan dengan sekelompok orang hasil visitasi apostolik,” jelasnya.

Ia juga mengungkapkan bahwa Paus telah mengutus Visitator Apostolik untuk menyelidiki berbagai dugaan yang diarahkan kepadanya. Hasilnya, tidak ditemukan kebenaran atas tuduhan-tuduhan negatif tersebut, sehingga integritas pelayanannya dinyatakan tetap terjaga.

Pengunduran Diri, Kardinal, dan Kasus yang Disalahpahami

Terkait alasan pengunduran dirinya, Mgr Paskalis menjelaskan bahwa setelah menerima surat penunjukan sebagai kardinal dari Paus Fransiskus, ia diminta mengundurkan diri dengan alasan dianggap membiarkan kasus pedofilia di Keuskupan Bogor. Ia menegaskan bahwa tudingan tersebut tidak benar.

Menurutnya, kasus tersebut telah ia kawal dan tangani hingga tuntas. Meski mengakui adanya tekanan dan situasi yang sulit, ia menolak memandang pengunduran diri ini sebagai kekalahan manusiawi.

Ia menegaskan bahwa keputusan tersebut diambil bukan karena kesalahan pribadi, melainkan sebagai wujud kasih terhadap persatuan Gereja, khususnya di Keuskupan Bogor.

“Terkait itu semua saya pun menyerahkan segalanya kepada Tuhan karena Tuhan adalah Gembalaku takkan kekurangan,” cetusnya.

Ia menambahkan bahwa jabatan dan gelar hanyalah titipan sementara. Dengan mengenang Santo Fransiskus dari Assisi yang menanggalkan jubah dunianya demi berserah sepenuhnya kepada Allah, Mgr Paskalis menyatakan bahwa keputusannya melepas jabatan uskup dijalani dengan kebebasan batin dan kedamaian.

Pesan Persaudaraan dan Estafet Penggembalaan

Dalam pesan penutupnya, Mgr Paskalis menyampaikan nasihat kepada para imam Keuskupan Bogor agar tetap berjalan bersama dalam semangat pengampunan dan kasih persaudaraan.

“Jangan berbicara di belakang-belakang dan lempar batu sesama, karena imam unio adalah saudara apapun kekurangan, apapun kelebihan, terimalah dia sebagai saudaramu untuk perjalanan selanjutnya,” pesannya.

Kepada seluruh umat, ia mengajak untuk tetap setia kepada Gereja dan Kristus sebagai Kepala Gereja.

“Saya berterima kasih atas persahabatan tulus kita dan saya meminta maaf dari kalian semua atas kekurangan dan kesalahan yang telah saya lakukan saya menyerahkan estafet penggembalaan ini dengan sukacita dan damai,” tutupnya.

Sementara itu, Mgr Christophorus Tri Harsono yang ditunjuk sebagai Administrator Apostolik menyatakan kesiapannya menjalankan tugas kepemimpinan pastoral dan administratif Keuskupan Bogor hingga Takhta Suci mengangkat uskup definitif.

“Penunjukan ini bertujuan menjamin kesinambungan pelayanan gerejawi serta pendampingan pastoral bagi umat di seluruh wilayah Keuskupan Bogor,” kata Mgr Christophorus, mengutip dari Beritasatu.com.

Ia juga mengajak seluruh umat untuk bersatu dalam doa, seraya menegaskan bahwa pengunduran diri Mgr Paskalis bukanlah sebuah akhir, melainkan sebuah transisi rohani.

“Satu bab yang diwarnai rasa syukur, penghormatan, dan doa umat bagi seorang gembala yang telah setia menabur hidup dan kasih Tuhan di tengah mereka,” ujarnya. (JT)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.