Jakarta, TERBITINDO.COM – Situasi politik dan keamanan di Iran kian memanas seiring dengan pernyataan tegas otoritas kehakiman negara tersebut yang mengisyaratkan akan dilakukannya persidangan cepat hingga eksekusi mati terhadap para demonstran. Isyarat keras ini muncul di tengah gelombang unjuk rasa besar-besaran yang melanda berbagai wilayah Iran dan secara terbuka mengabaikan peringatan dari Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump.
Isyarat tersebut disampaikan langsung oleh Kepala Otoritas Kehakiman Iran, Gholamhossein Mohseni-Ejei, melalui sebuah pernyataan video yang dibagikan secara daring oleh televisi pemerintah Iran. Seperti dilansir Associated Press, Rabu (14/1/2026), pernyataan itu menegaskan sikap pemerintah Iran yang tidak menunjukkan tanda-tanda kompromi terhadap para demonstran.
“Jika kita ingin melakukan suatu pekerjaan, kita harus melakukannya sekarang. Jika kita ingin melakukan sesuatu, kita harus melakukannya dengan cepat,” cetus Mohseni-Ejei dalam pernyataannya.
Pernyataan tersebut tidak berhenti di situ. Ia menekankan bahwa penundaan hanya akan melemahkan dampak tindakan yang diambil negara.
“Jika terlambat, dua bulan, tiga bulan kemudian, itu tidak akan memiliki efek yang sama. Jika kita ingin melakukan sesuatu, kita harus melakukannya dengan cepat.”
Nada bicara Mohseni-Ejei dinilai banyak pihak sebagai sinyal kuat bahwa pemerintah Iran siap menggunakan langkah ekstrem, termasuk hukuman mati, untuk meredam gelombang perlawanan yang semakin meluas. Sikap ini sekaligus dipandang sebagai tantangan langsung terhadap Presiden Trump.
Tantangan Terhadap Peringatan Trump
Pernyataan Mohseni-Ejei tersebut mencuat tak lama setelah Trump secara terbuka memperingatkan Teheran. Presiden AS itu menegaskan bahwa Washington siap mengambil langkah keras apabila laporan mengenai rencana eksekusi gantung terhadap demonstran benar-benar terjadi.
“Saya belum mendengar tentang hukuman gantung itu. Jika mereka menghukum gantung mereka (demonstran-red), Anda akan melihat beberapa hal… Kita akan mengambil tindakan yang sangat keras,” ucap Trump dalam wawancara dengan CBS News yang ditayangkan pada Selasa (13/1) waktu setempat.
Trump bahkan mengulang penegasannya untuk menunjukkan keseriusan sikap AS.
“Jika mereka melakukan hal seperti itu, kita akan mengambil tindakan yang sangat keras.”
Peringatan ini muncul setelah sejumlah jaksa di Teheran menyatakan bahwa otoritas Iran berencana menjerat para tersangka demonstran dengan dakwaan “moharebeh” — atau “mengobarkan perang melawan Tuhan” — sebuah tuduhan berat dalam sistem hukum Iran yang dapat berujung pada hukuman mati.
Akar Unjuk Rasa dan Eskalasi Kekerasan
Gelombang unjuk rasa yang mengguncang Iran sejak bulan lalu awalnya dipicu oleh kondisi ekonomi yang kian memburuk. Namun, seiring waktu, aksi-aksi tersebut berkembang menjadi gerakan yang lebih luas, menantang legitimasi pemerintahan teokratis yang telah berkuasa sejak Revolusi Islam tahun 1979.
Dalam beberapa hari terakhir, situasi di lapangan semakin tidak terkendali. Unjuk rasa diwarnai bentrokan, kerusuhan, dan rentetan kekerasan yang menelan korban jiwa dalam jumlah besar. Seorang pejabat Iran yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan pada Selasa (13/1) bahwa sekitar 2.000 orang dilaporkan tewas selama unjuk rasa besar-besaran tersebut.
Data Korban Versi Kelompok HAM
Sementara itu, angka yang dirilis oleh kelompok hak asasi manusia berbasis di AS, Human Rights Activists News Agency (HRANA), menunjukkan jumlah korban yang lebih tinggi. Menurut data terbaru HRANA, sedikitnya 2.571 orang tewas selama gelombang protes menyelimuti Iran.
Jumlah korban tersebut mencakup 2.403 demonstran, 147 individu yang berafiliasi dengan pemerintah Iran, 12 anak di bawah usia 18 tahun, serta 9 warga sipil non-demonstran. Selain korban tewas, lebih dari 1.000 orang lainnya dilaporkan mengalami luka-luka akibat kekerasan yang terjadi.
HRANA juga mencatat bahwa lebih dari 10.700 orang telah ditahan oleh aparat keamanan Iran selama dua pekan terakhir, menambah panjang daftar kekhawatiran internasional terhadap pelanggaran hak asasi manusia di negara tersebut.
Ketegangan antara Teheran dan Washington pun kian meningkat, dengan nasib ribuan demonstran Iran kini berada di ujung tanduk, di tengah ancaman hukuman mati dan sorotan tajam dunia internasional. (JT)

