Di Bawah Matahari Nggorang, Thobias Utu dan Rosalia Emi Menyemai Harapan dari Pasir

by -36 Views

NTT, TERBITINDO.COM — Matahari di ladang pasir Nggorang, Kecamatan Reok, Manggarai, selalu datang tanpa kompromi. Panasnya menyengat kulit, debunya melekat di napas, dan kelelahan seakan menjadi bagian dari udara yang dihirup. Namun, di tengah kerasnya alam itu, sepasang suami-istri terus berdiri tegak, menggenggam cangkul dan harapan dengan kekuatan yang sama. Mereka adalah Thobias Utu dan Rosalia Emi.

Setiap pagi, sebelum banyak orang memulai aktivitasnya, Thobias dan Rosalia telah berada di ladang pasir. Selama hujan tidak turun, mereka bekerja dari pagi hingga senja. Tidak ada jam kerja pasti, tidak ada jaminan pendapatan, dan tidak ada perlindungan dari terik matahari. Yang ada hanyalah tekad untuk bertahan, demi satu alasan yang tak pernah berubah: masa depan anak-anak mereka.

Di ladang pasir itu, Thobias mengerahkan sisa tenaga yang ia miliki. Tangannya kasar, tubuhnya terbakar matahari, tetapi langkahnya tak pernah ragu. Di sisinya, Rosalia setia mendampingi. Dengan kesabaran yang nyaris tak bersuara, ia menguatkan, mengangkat, dan menata pasir, seolah setiap genggaman adalah doa yang diam-diam dipanjatkan.

Perjuangan mereka tidak berhenti pada dua pasang tangan. Sepulang sekolah, anak-anak mereka datang membantu. Tanpa rasa malu, tanpa gengsi, mereka ikut menggali dan mengangkut pasir. Pemandangan ini terasa kontras dengan realitas banyak anak seusia mereka yang kini jarang membantu orang tua, terlebih karena terbuai oleh arus zaman. Namun, anak-anak Thobias dan Rosalia tumbuh dengan kesadaran yang berbeda. Mereka tahu, pekerjaan itu adalah satu-satunya sandaran hidup keluarga.

Bagi anak-anak itu, ladang pasir bukan hanya tempat bekerja, tetapi ruang belajar tentang tanggung jawab dan kebersamaan. Dari orang tua mereka, mereka belajar bahwa kerja keras bukanlah sesuatu yang memalukan, melainkan kehormatan.

Perjalanan hidup keluarga ini pernah berada pada titik yang sangat rapuh. Pernah suatu waktu, Thobias dan Rosalia bersama anak-anaknya tinggal di bawah gubuk terpal selama kurang lebih delapan bulan. Saat itu, hujan turun dengan sangat deras. Air merembes dari segala sisi, angin dingin menusuk tulang, dan malam-malam dilalui dengan rasa cemas. Namun, mereka tidak menyerah.

Di bawah terpal sederhana itu, mereka belajar arti bertahan. Tidak ada keluhan berlebihan, tidak ada penyesalan panjang. Yang ada hanyalah semangat untuk terus hidup dan keyakinan bahwa badai tidak selamanya menetap.

Di bawah matahari yang kejam itu, mereka memahami satu hal penting: kebahagiaan tidak selalu tentang kenyamanan, melainkan tentang kemampuan untuk bertahan dan saling menguatkan demi orang-orang yang dicintai.

Mereka menahan terik, menelan capek,
bukan demi pujian, bukan demi kemewahan,
melainkan agar kelak anak-anak bisa berjalan
di jalan yang lebih sejuk dan terang.

Di antara debu dan panas, Thobias dan Rosalia kerap saling mengingatkan dengan kalimat sederhana yang menjadi pegangan hidup mereka:

“Biarlah kita yang lelah hari ini,
asal anak-anak tersenyum esok hari.”

Kalimat itu bukan sekadar kata-kata penghibur. Ia adalah janji, sekaligus alasan mengapa mereka tetap bertahan meski tubuh telah letih dan hari terasa panjang.

Ladang pasir di Nggorang mungkin tak mengenal belas kasihan. Alam tetap keras, matahari tetap terik, dan hidup terus menuntut daya tahan. Namun, cinta orang tua tak pernah menyerah. Dari kerja keras Thobias Utu dan Rosalia Emi, tumbuh harapan besar—bahwa nasib bisa diubah oleh doa, keringat, dan cinta yang tulus.

Di antara tumpukan pasir dan jejak kaki yang tertinggal setiap hari, mereka menanam mimpi tentang masa depan anak-anak yang lebih terang. Dan di situlah, di ladang pasir yang sederhana itu, perjuangan sunyi berubah menjadi kisah kemanusiaan yang layak dikenang.


Emanuel Geri Degu

NPM : 22106065

(Mahasiswa UNIKA St Paulus Ruteng Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.