Sirih Pinang: Bahasa Budaya yang Mengikat Kehidupan Sosial Masyarakat Nusa Tenggara Timur

by -41 Views

Jakarta, TERBITINDO.COM – Di berbagai penjuru Nusantara, masyarakat tradisional masih memelihara kebiasaan mengunyah sirih pinang sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Tradisi ini tidak sekadar bertahan sebagai jejak masa lalu, tetapi terus hidup dan berdenyut di tengah masyarakat, termasuk di Nusa Tenggara Timur (NTT). Di wilayah ini, khususnya di kalangan masyarakat Rote, sirih pinang bukan hanya kebiasaan turun-temurun, melainkan bahasa budaya yang sarat makna dan nilai kehidupan.

Bagi orang Rote, sirih pinang hadir hampir di setiap ruang interaksi sosial. Ia menemani penyambutan tamu, menjadi bagian penting dalam prosesi perkawinan adat, hadir dalam upaya penyelesaian konflik, hingga mewarnai percakapan santai di beranda rumah. Dalam setiap kunyahan sirih pinang, tersimpan pesan keterbukaan, penghormatan, dan persaudaraan yang mengikat relasi antarmanusia. Tradisi ini menjelma simbol penerimaan dan kesediaan untuk saling mendengar, sekaligus cermin identitas budaya yang terus dijaga.


Makna Sirih Pinang dalam Kehidupan Masyarakat

Sirih dan pinang memiliki rasa serta karakter yang berbeda, namun disatukan dalam satu kunyahan. Perpaduan ini bukan tanpa makna. Secara simbolik, mengunyah sirih pinang menggambarkan keberagaman yang dipersatukan demi tujuan hidup bersama. Perbedaan tidak dilihat sebagai pemisah, melainkan sebagai kekayaan yang saling melengkapi.

Nilai tersebut sejalan dengan prinsip-prinsip keagamaan yang mengajarkan bahwa keberagaman harus dirawat dalam bingkai iman dan kasih. Di Rote, ajaran ini tidak hanya disampaikan melalui ruang-ruang ibadah, tetapi dihidupi secara nyata dalam tradisi sehari-hari. Sirih pinang menjadi medium sederhana namun kuat untuk menanamkan nilai persatuan, toleransi, dan saling menghargai.

Dalam konteks adat, sirih pinang juga memegang peranan penting sebagai sarana penyelesaian konflik. Ketika pihak-pihak yang berselisih duduk bersama dan berbagi sirih pinang, tindakan tersebut menandakan kesediaan membuka hati, menurunkan ego, dan mencari jalan damai. Tradisi ini mencerminkan nilai-nilai religius seperti pengampunan, pertobatan, dan pemulihan relasi, di mana budaya dan agama berjalan beriringan, saling menguatkan tanpa meniadakan satu sama lain.


Sirih Pinang dan Identitas Perempuan NTT

Bagi perempuan NTT, mengunyah sirih pinang bukan sekadar kebiasaan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Lebih dari itu, ia merupakan simbol identitas, penghormatan diri, sekaligus ruang sosial yang mempererat relasi antarperempuan. Dalam kehidupan masyarakat NTT, perempuan memegang peran strategis sebagai penjaga nilai-nilai adat dan keharmonisan keluarga.

Sejak memasuki usia dewasa, perempuan NTT terbiasa membawa sirih pinang ke mana pun mereka pergi—ke kebun, ke rumah tetangga, maupun ke berbagai upacara adat. Sirih pinang menjadi bagian tak terpisahkan dari keseharian, sekaligus penanda kedewasaan dan kearifan dalam memahami adat. Di beranda rumah atau di sela-sela aktivitas berkebun, perempuan sering berkumpul, mengunyah sirih pinang sambil berbincang.

Ruang sosial ini menjadi wadah aman untuk saling berbagi cerita, menguatkan satu sama lain, dan merawat solidaritas. Anak-anak perempuan pun belajar dengan menyaksikan langsung bagaimana nilai kesantunan, penghormatan, dan kebersamaan dipraktikkan dalam kehidupan nyata. Dalam berbagai ritus adat—mulai dari perkawinan, penyambutan tamu, hingga penyelesaian persoalan adat—perempuan berperan sebagai penjaga tata cara penyajian sirih pinang yang tepat dan bermakna.


Tata Cara dan Susunan Sirih Pinang

Penyusunan dan penyajian sirih pinang bukanlah hal sepele. Cara menyuguhkannya mencerminkan kehalusan budi, keterampilan sosial, serta penghormatan terhadap tamu dan leluhur. Umumnya, sirih pinang disusun dalam satu rangkaian sederhana yang terdiri atas daun sirih, buah pinang yang dipotong kecil, kapur, dan pada beberapa komunitas ditambahkan tembakau.

Perpaduan bahan-bahan tersebut menghadirkan rasa khas, sekaligus mengandung nilai filosofis tentang keseimbangan, kebersamaan, dan kesabaran. Tradisi ini juga berfungsi sebagai sarana komunikasi sosial, tempat perempuan berbagi pengalaman hidup dan menurunkan nasihat lintas generasi.

Proses pemanenan buah sirih dilakukan secara manual dengan memetik langsung menggunakan tangan. Jika buah berada di ketinggian, masyarakat memanfaatkan alat bantu seperti tangga bambu atau jolok, yakni galah bambu panjang. Sebagai tanaman merambat, sirih tumbuh mengikuti pohon penopangnya dan dapat mencapai ketinggian lebih dari tujuh meter. Tanaman ini umumnya dibudidayakan di sekitar lingkungan rumah sebagai bagian dari kebutuhan sehari-hari.


Dampak Mengunyah Sirih Pinang dan Kepercayaan Adat

Di balik manfaat yang dipercaya terkandung dalam sirih pinang, praktik mengunyahnya juga dapat menimbulkan reaksi tertentu, terutama bagi mereka yang belum terbiasa. Sebagian orang mengalami kondisi yang oleh masyarakat setempat disebut sebagai mabuk sirih pinang. Gejalanya antara lain kepala terasa ringan atau berputar, tubuh melemah, serta muncul keringat dingin.

Dikutip dalam penelitian Arief, dkk. (2019), masyarakat Sobawawi, NTT, tidak selalu memandang kondisi tersebut sebagai dampak biologis semata. Selain dipengaruhi oleh kuatnya rasa dan kandungan sirih serta pinang, mabuk sirih pinang juga diyakini berkaitan dengan pelanggaran aturan adat atau pemali dalam proses pemanenan buah pinang.

Kepercayaan ini berakar pada pandangan bahwa hubungan manusia dan alam harus dijaga keharmonisannya. Terdapat tata cara khusus saat memanen buah pinang, seperti kewajiban memanjat pohon secara lurus pada satu sisi batang ketika naik dan turun. Memanjat dengan cara mengelilingi atau berputar pada batang dianggap tidak pantas dan dilarang dalam adat. Pohon pinang pun tidak boleh diperlakukan kasar, misalnya ditendang dengan sengaja, karena diyakini dapat membawa dampak buruk.

Apabila pantangan tersebut dilanggar, masyarakat percaya bahwa buah pinang yang dihasilkan dapat memicu ketidaknyamanan bagi orang yang mengonsumsinya. Oleh sebab itu, memanen pinang dipahami bukan sekadar aktivitas fisik, melainkan praktik yang sarat etika dan penghormatan terhadap alam.

Untuk mengatasi kondisi mabuk sirih pinang, masyarakat Sobawawi memiliki cara penanganan tradisional yang diwariskan secara turun-temurun. Salah satunya dengan menjentikkan jari ke gigi atau yang dikenal dengan istilah dikuti sebanyak beberapa kali. Selain itu, orang yang mengalami mabuk biasanya diberikan gula pasir untuk diisap, yang dipercaya dapat meredakan efek tidak nyaman dan memulihkan kondisi tubuh secara perlahan. (JT)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.