Jakarta, TERBITINDO.COM – Harapan untuk menemukan seluruh korban tenggelamnya KM Putri Sakinah di Selat Pulau Padar, kawasan Taman Nasional Komodo, Labuan Bajo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), akhirnya harus berujung pada keputusan pahit. Setelah melalui rangkaian pencarian intensif selama 15 hari, Tim SAR gabungan resmi mengakhiri operasi pencarian. Dari seluruh korban, satu anak laki-laki, putra dari pelatih sepak bola wanita Valencia CF, Martin Carreras Fernando, dinyatakan belum ditemukan.
Operasi pencarian terakhir dilaksanakan pada Jumat (9/1/2025). Namun, berbeda dari hari-hari sebelumnya, pencarian kali ini hanya berlangsung setengah hari. Sejak pagi, tim SAR kembali menyisir perairan di sekitar lokasi kejadian, namun hingga siang hari, hasil pencarian tetap nihil. Seluruh unsur yang terlibat, baik personel maupun armada laut, akhirnya kembali ke Pelabuhan Marina Labuan Bajo sekitar pukul 12.00 Wita.
“Hasil pencarian korban terakhir, nihil,” ujar salah satu orang yang terlibat langsung dalam proses pencarian saat ditemui di Pelabuhan Marina Labuan Bajo, Jumat (9/1/2025) siang. Pernyataan tersebut menegaskan bahwa upaya maksimal telah dilakukan, namun kondisi alam dan luasnya area pencarian menjadi tantangan besar. Pengumuman resmi terkait penutupan operasi SAR dijadwalkan akan disampaikan oleh Badan Pencarian dan Pertolongan Nasional (Basarnas) pada hari yang sama.
Sebelumnya, Kepala Kantor Basarnas Maumere yang juga bertindak sebagai SAR Mission Coordinator, Fathur Rahman, telah menyampaikan bahwa batas akhir operasi pencarian memang ditetapkan pada pukul 12.00 Wita. “Sekitar jam 12.00 Wita kami sudah kembali dari proses pencarian,” kata Fathur, Kamis (8/1/2026) malam. Pernyataan ini menandai berakhirnya seluruh rangkaian misi kemanusiaan yang telah menyita perhatian publik sejak akhir Desember lalu.
Tragedi tenggelamnya KM Putri Sakinah terjadi pada Jumat (26/12/2025) malam, di Selat Pulau Padar, Taman Nasional Komodo. Dalam insiden tersebut, Martin Carreras Fernando bersama tiga orang anaknya menjadi korban. Sejak kejadian itu, operasi pencarian dilakukan tanpa henti, melibatkan berbagai unsur SAR, baik dari laut, udara, maupun darat.
Dari empat korban dalam satu keluarga tersebut, tiga jenazah telah berhasil ditemukan. Fernando sendiri ditemukan pada 4 Januari, sementara putrinya yang berusia 12 tahun ditemukan lebih awal, yakni pada 29 Desember 2025. Keduanya ditemukan dalam kondisi mengapung di sekitar perairan Pulau Rinca dan Pulau Serai, wilayah yang masih berada dalam kawasan Taman Nasional Komodo.
Satu korban lainnya, yakni anak laki-laki Fernando yang berusia 10 tahun, ditemukan beberapa hari kemudian di dalam bangkai kapal pinisi yang mereka tumpangi. Penemuan tersebut terjadi pada Selasa (6/1/2026), ketika bangkai KM Putri Sakinah ditemukan terdampar di Pantai Pede, Pulau Komodo, sekitar 14 kilometer dari lokasi awal kapal dilaporkan tenggelam.
Namun hingga operasi SAR ditutup, satu anak laki-laki Fernando lainnya belum berhasil ditemukan. Keberadaan korban masih menjadi tanda tanya besar, meskipun area pencarian telah diperluas dan berbagai metode telah digunakan oleh tim SAR gabungan.
Di tengah duka mendalam tersebut, masih ada secercah kabar selamat. Istri Fernando dan anak bungsunya berhasil selamat dalam insiden kapal tenggelam yang terjadi sehari setelah perayaan Natal itu. Keduanya kini dalam kondisi selamat, meski harus menghadapi kehilangan besar akibat tragedi laut yang memilukan ini.
Peristiwa tenggelamnya KM Putri Sakinah tidak hanya meninggalkan luka bagi keluarga korban, tetapi juga menjadi pengingat akan risiko perjalanan laut di wilayah perairan Indonesia yang dikenal memiliki tantangan cuaca dan arus laut yang kuat. Penutupan operasi SAR menjadi akhir dari upaya pencarian, namun ingatan atas tragedi ini akan terus melekat di benak banyak pihak. (JT)






