Gelombang Protes Kian Meluas, Australia Desak Warganya Segera Tinggalkan Iran

by -24 Views

Jakarta, TERBITINDO.COM – Situasi keamanan di Iran kian menjadi sorotan internasional seiring berlanjutnya gelombang protes yang terjadi di berbagai wilayah negara tersebut. Menyikapi kondisi yang dinilai semakin tidak menentu, pihak berwenang Australia pada Rabu secara resmi mengeluarkan peringatan keras kepada seluruh warganya yang berada di Iran maupun yang berencana melakukan perjalanan ke negara itu.

Melalui portal resmi Smartraveller milik Kementerian Luar Negeri Australia, pemerintah Canberra menegaskan bahwa keselamatan warga negaranya menjadi prioritas utama. Dalam pernyataan tersebut, Australia secara tegas meminta warganya untuk segera meninggalkan Iran jika masih berada di sana.

“Jika berada di Iran, sebaiknya segera keluar. Protes keras terjadi di seluruh negeri dan bisa meningkat tanpa pemberitahuan,” bunyi pernyataan yang dimuat dalam laman Smartraveller Kementerian Luar Negeri Australia.

Imbauan tersebut tidak hanya ditujukan kepada warga Australia yang saat ini berada di Iran, tetapi juga kepada mereka yang memiliki rencana perjalanan dalam waktu dekat. Pemerintah Australia meminta agar seluruh perjalanan ke Iran ditunda hingga situasi benar-benar dinyatakan aman. Selain itu, warga Australia juga diminta untuk menjauhi kerumunan, demonstrasi, maupun aksi protes, serta senantiasa mematuhi dan mengikuti arahan dari otoritas setempat guna menghindari risiko yang tidak diinginkan.

Kondisi semakin diperparah dengan dihentikannya operasional Kedutaan Besar Australia di Teheran. Dalam pernyataan resminya, pemerintah Australia mengungkapkan bahwa penutupan sementara tersebut berdampak langsung pada keterbatasan kemampuan negara itu dalam memberikan bantuan konsuler kepada warganya di Iran. Artinya, apabila terjadi keadaan darurat, dukungan dari perwakilan diplomatik Australia akan sangat terbatas.

Lebih lanjut, pemerintah Australia juga menegaskan bahwa warga negaranya yang tetap memilih tinggal di Iran, meskipun telah menerima imbauan resmi untuk meninggalkan negara tersebut, harus menanggung sepenuhnya risiko atas keselamatan diri mereka sendiri. “Warga Australia yang memilih tetap tinggal di Iran meski mendapat imbauan bertanggung jawab penuh atas keselamatan diri mereka sendiri,” kata pernyataan itu.

Gelombang protes di Iran sendiri mulai pecah sejak akhir Desember, dipicu oleh memburuknya kondisi ekonomi nasional. Pelemahan nilai mata uang Iran, rial, menjadi pemicu utama ketidakpuasan masyarakat. Fluktuasi nilai tukar yang sangat tajam telah berdampak langsung pada lonjakan harga barang, baik di tingkat grosir maupun eceran, sehingga menekan kehidupan sehari-hari warga.

Iran saat ini juga tengah menghadapi tekanan inflasi yang sangat tinggi. Bank Sentral Iran mencatat tingkat inflasi tahunan telah mencapai 38,9 persen, sebuah angka yang mencerminkan merosotnya daya beli masyarakat secara signifikan. Situasi tersebut semakin memperparah ketegangan sosial dan memicu aksi protes yang meluas di berbagai daerah.

Di sisi lain, nilai tukar dolar Amerika Serikat di pasar tidak resmi menunjukkan lonjakan yang sangat drastis. Jika sebelum penarikan Amerika Serikat dari kesepakatan nuklir pada Mei 2018 kurs dolar AS berada di kisaran 50.000 rial, kini nilainya melonjak tajam hingga sekitar 1,4 juta rial di pasar terbuka. Lonjakan ini menjadi simbol krisis ekonomi yang tengah dihadapi Iran dan memperkuat keresahan publik terhadap kondisi ekonomi nasional.

Dengan latar belakang tersebut, peringatan keras Australia kepada warganya mencerminkan kekhawatiran global terhadap stabilitas dan keamanan di Iran. Selama protes masih berlangsung dan situasi belum menunjukkan tanda-tanda mereda, risiko bagi warga asing dinilai tetap tinggi dan sulit diprediksi. (JT)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.