Jakarta, TERBITINDO.COM – Kekurangan zat besi merupakan kondisi yang sering terjadi, namun kerap luput dari perhatian. Banyak orang menganggap keluhan yang muncul sebagai hal biasa, padahal mineral ini memegang peranan vital dalam menjaga fungsi tubuh tetap optimal. Zat besi dibutuhkan untuk membentuk hemoglobin, yakni protein dalam sel darah merah yang bertugas mengangkut oksigen ke seluruh jaringan tubuh.
Ketika asupan zat besi tidak mencukupi, produksi hemoglobin akan menurun. Akibatnya, distribusi oksigen ke otot dan jaringan tubuh menjadi tidak maksimal. Kondisi inilah yang kemudian memicu berbagai gangguan fisik, mulai dari rasa lelah berkepanjangan hingga perubahan kondisi kulit dan rambut. Jika dibiarkan, defisiensi zat besi dapat berdampak serius terhadap kualitas hidup.
Oleh karena itu, mengenali tanda-tanda kekurangan zat besi sejak dini menjadi langkah penting agar penanganan dapat segera dilakukan. Merangkum berbagai sumber, berikut tujuh gejala kekurangan zat besi yang mudah dikenali dan sering muncul dalam aktivitas sehari-hari.
Gejala paling umum yang kerap dirasakan adalah sering merasa lelah. Rasa lelah ini muncul tanpa penyebab yang jelas dan tidak hilang meski sudah beristirahat atau tidur cukup. Tubuh terasa lemas dan sulit berkonsentrasi. Menurut Health, kondisi ini terjadi karena rendahnya kadar hemoglobin yang menghambat pengiriman oksigen ke jaringan tubuh. Selain itu, defisiensi zat besi juga berkaitan dengan gangguan tidur dan sindrom kaki gelisah, yang semakin memperparah rasa lelah.
Selain kelelahan, sakit kepala yang sering kambuh juga dapat menjadi sinyal tubuh kekurangan zat besi. Otak yang tidak mendapatkan suplai oksigen secara optimal akan lebih rentan mengalami nyeri. Di sisi lain, kekurangan zat besi juga dapat menyebabkan pembuluh darah membengkak, sehingga menimbulkan tekanan yang memicu sakit kepala.
Tanda berikutnya yang cukup mudah diamati adalah kulit terlihat lebih pucat. Kondisi ini berkaitan langsung dengan rendahnya produksi sel darah merah. Pada orang dengan kulit terang, perubahan warna biasanya terlihat jelas di area wajah. Sementara pada pemilik kulit gelap, pucat lebih mudah dikenali pada bagian dalam mulut, gusi, atau kelopak mata bagian bawah.
Gejala lain yang terbilang unik adalah mengidam es batu. Defisiensi zat besi dapat memicu kondisi yang disebut pica, yaitu keinginan mengonsumsi benda yang tidak memiliki nilai gizi. Salah satu bentuknya adalah pagophagia, kebiasaan mengunyah es batu. Fenomena ini dialami sekitar 25 persen penderita kekurangan zat besi, terutama pada ibu hamil dan anak-anak pra-remaja.
Tidak hanya berdampak pada energi tubuh, kekurangan zat besi juga memengaruhi penampilan fisik, seperti rambut rusak dan kulit kering. Kurangnya nutrisi serta aliran darah yang tidak optimal ke folikel rambut dan jaringan kulit membuat rambut tampak kusam, rapuh, dan mudah rontok. Menurut Healthline, defisiensi zat besi sering dikaitkan dengan kerontokan rambut yang signifikan, sementara kulit menjadi lebih kering dan kehilangan elastisitasnya.
Gejala selanjutnya adalah sariawan atau luka di sudut mulut. Kekurangan zat besi dapat menyebabkan luka yang lebih parah dibandingkan bibir pecah-pecah biasa. Selain itu, sariawan juga dapat muncul, meskipun kondisi ini memang bisa dipicu oleh berbagai faktor lain.
Tanda terakhir yang kerap diabaikan adalah sensitif terhadap suhu dingin. Penderita kekurangan zat besi biasanya mudah merasa kedinginan atau sering mengalami tangan dan kaki dingin meski berada di ruangan hangat. Hal ini terjadi karena aliran oksigen ke bagian tubuh paling ujung tidak berjalan dengan baik.
Jika Anda merasakan beberapa gejala tersebut secara bersamaan, sebaiknya segera memperhatikan kembali asupan zat besi harian. Pemenuhan kebutuhan zat besi dapat dilakukan melalui konsumsi makanan bergizi atau suplemen sesuai anjuran. Untuk memastikan kondisi kesehatan secara menyeluruh, jangan ragu berkonsultasi dengan dokter agar mendapatkan diagnosis dan penanganan yang tepat. (JT)

