Di Tengah Lesunya OMK, Tablo Beawaek Menyentak: Iman Tak Mati, Tapi Perlu Dihidupkan

by -4744 Views

Manggarai, TERBITINDO.COM – Di banyak tempat, keluhan tentang menurunnya keterlibatan Orang Muda Katolik (OMK) dalam kehidupan menggereja bukan lagi hal baru. Kursi-kursi kosong dalam kegiatan rohani, minimnya partisipasi dalam pelayanan, hingga rendahnya inisiatif menjadi fenomena yang diam-diam mengkhawatirkan. Kaum muda kerap dituding pasif, sementara di sisi lain, ruang aktualisasi mereka di dalam Gereja juga sering kali terbatas.

Di tengah realitas itu, apa yang terjadi di Stasi St. Gabriel Beawaek, Paroki Kristus Raja Pagal, justru menghadirkan narasi berbeda—bahkan bisa disebut sebagai “tamparan halus” bagi situasi yang ada.

Orang Muda Katolik setempat mementaskan Tablo Jalan Salib Yesus Kristus pada Jumat Agung, 3 April 2026. Pementasan ini bukan sekadar dramatiasi, melainkan sebuah peristiwa iman yang melibatkan umat secara langsung. Dimulai dari pertigaan Kampung Lalang, umat mengikuti setiap adegan hingga berakhir di lapangan sepak bola Beawaek, tempat Yesus disalibkan bersama dua orang lainnya.

Lebih dari sekadar prosesi visual, Tablo ini menghidupkan kembali pengalaman iman yang selama ini mungkin hanya dirasakan secara simbolis.

Ketua Dewan Stasi, Petrus Ledong, menilai pendekatan ini efektif menyentuh umat.

“Umat merasakan adegan Jalan Salib Yesus meski melalui visualisasi. Ini membantu umat menghayati arti pengorbanan, karena mereka secara langsung mengikuti setiap peristiwa yang ditampilkan,” ujarnya.

Ia menyebut kegiatan ini sebagai sesuatu yang baru sekaligus penting bagi kehidupan umat.

“Ini sesuatu yang baru bagi umat Stasi St. Gabriel Beawaek. Kami sangat mengapresiasi kaum muda yang telah bersusah payah. Umat merasakan pengalaman baru, khususnya pada Jumat Agung tahun 2026 ini,” tambahnya.

Namun di balik keberhasilan itu, tersimpan realitas yang tidak sepenuhnya ideal. Antusiasme umat, sebagaimana diakui oleh Ignasius Domor, belum sepenuhnya memenuhi harapan.

“Seumur saya, belum pernah menyaksikan visualisasi seperti ini. Semangat adik-adik OMK sangat luar biasa, walaupun masih ada kekurangan yang wajar. Tapi kalau bicara antusias umat, masih jauh dari harapan,” ungkapnya jujur.

Pernyataan ini menjadi catatan penting: bahwa upaya menghidupkan iman tidak hanya berhenti pada inisiatif OMK, tetapi juga membutuhkan keterlibatan umat secara lebih luas.

Dari sisi internal, tantangan juga muncul dalam tubuh OMK sendiri. Ketua OMK, Marianus Hendra, mengakui bahwa proses persiapan tidak berjalan mulus.

“Kami latihan selama satu bulan, tetapi tantangan terbesar adalah kehadiran anggota yang kurang aktif,” jelasnya.

Fakta ini mengindikasikan bahwa persoalan klasik OMK—yakni komitmen dan konsistensi—masih menjadi pekerjaan rumah yang belum selesai.

Meski demikian, semangat untuk bergerak tetap terlihat. Marianus berharap kegiatan ini menjadi titik awal kebangkitan.

“Semoga dengan kegiatan ini OMK semakin aktif dalam hidup menggereja, apalagi ini merupakan kegiatan pertama di Stasi St. Gabriel Beawaek,” ujarnya.

Di sisi lain, pengalaman personal para pemeran menunjukkan bahwa ruang keterlibatan mampu membangkitkan kesadaran iman yang lebih dalam. Sebagai pemeran Yesus, Marianus Hendra mengaku mengalami pergulatan fisik dan batin.

“Saya sempat sakit sebelum hari pelaksanaan, tetapi saya berusaha tetap kuat. Peran ini memberi pengalaman iman yang berbeda karena dijalani dengan penuh hikmat,” ungkapnya.

Hal serupa dirasakan oleh pemeran Maria, Natalia Astrila Mumung, yang harus berjuang membagi waktu antara sekolah dan latihan.

“Kami harus mengatur waktu dengan baik, tetapi saya sangat senang karena peran ini penuh makna dan hikmat,” tuturnya.

Dari perspektif kreatif, sutradara Klaudius Sandro Natang mengangkat tema “Salib di Atas Tanah Kejujuran”—sebuah refleksi yang tidak hanya relevan secara teologis, tetapi juga sosial.

“Ini merupakan sejarah pertama di Stasi St. Gabriel Beawaek. Antusiasme masyarakat cukup baik dan ini memberi pengalaman baru bagi perkembangan anak-anak ke depan,” jelasnya.

Di balik terselenggaranya kegiatan ini, peran inisiator menjadi kunci penting. Baltasar Uji sebagai Ketua KBG Beawaek melihat potensi besar kaum muda jika diberi ruang dan kepercayaan.

“Saya melihat anak-anak muda kita mampu melakukan hal seperti ini, seperti di stasi atau paroki lain. Ini kesempatan bagi mereka untuk belajar berorganisasi, berakting, dan terlibat dalam kehidupan menggereja,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar pertunjukan, tetapi bagian dari proses pembinaan iman generasi muda.

“Tujuannya adalah membangun kolaborasi kaum muda sekaligus mendidik mereka untuk tetap terlibat dalam hidup menggereja di tengah tantangan zaman yang semakin maju,” tambahnya.

Ia pun berharap langkah kecil ini menjadi gerakan yang lebih luas.

“Semoga ini bisa menggerakkan anak-anak muda lainnya di Stasi St. Gabriel Beawaek yang belum terlibat untuk ikut ambil bagian,” harapnya.

Pementasan Tablo di Beawaek pada akhirnya tidak hanya berbicara tentang kisah sengsara Kristus, tetapi juga membuka cermin bagi kehidupan Gereja sendiri. Di satu sisi, ia membuktikan bahwa kaum muda masih memiliki semangat dan potensi besar. Di sisi lain, ia juga menyingkap kenyataan bahwa keterlibatan itu belum merata—baik dari internal OMK maupun dari umat secara keseluruhan.

Dari Stasi St. Gabriel Beawaek dalam wilayah Paroki Kristus Raja Pagal, sebuah pesan sederhana namun kuat digaungkan: iman tidak pernah benar-benar hilang—ia hanya menunggu untuk dihidupkan, diberi ruang, dan dipercaya. (JT)