
TERBITINDO.COM – Toleransi antarumat beragam di Flores bukan suatu hal baru. Sejak lama kehidupan antarumat di daerah yang bermayoritas Katolik itu rukun. Jarang mendengar peristiwa karena perbedaan agama, seperti yang terjadi di beberapa tempat di Indonesia.
Flores dan Nusa Tenggara Timur pada umumnya dikenal sebagai daerah paling tinggi toleransi. Kehidupan saling rukun membuat NTT dijuluki sebagai Nusa Toleransi Terindah atau Nusa Tinggi Toleransi. Hal itu tidak terlepas dari pemahaman umat serta ajaran dan peran pemimpin agama untuk saling menerima perbedaan, sebagaimana yang diatur dalam UUD 1945 Pasal 28 E.
Di berbagai pemberitaan kita menemukan bagaimana masyarakat Flores menghidupkan karya-karya kecil. Di tengah perbedaan kita menyaksikan berbagai aksi solidaritas. Mereka menjaga sejarah yang sejak lama telah diwariskan nenek moyang. Memupuk persaudaraan dan merawat persatuan.
Karya kecil dan sederhana muncul di berbagai peristiwa Hari Raya Keagamaan. Sehingga tidak jarang, perayaan Hari Raya Umat Katolik, banyak perempuan berjilbab ikut berpartisipasi. Sebaliknya demikian. Mereka saling mendukung dan bahkan mendoakan.
Hari ini kita menyaksikan umat Muslim di Kelurahan Postoh, Kota Larantuka, Kabupaten Flores Timur, NTT, menyediakan air minum gratis, snack, kopi, teh, serta layanan pengisian daya (cas) ponsel bagi para peziarah Semana Santa Larantuka.
Umat Muslim dari berbagai sudut Kota Reinha Rosari datang ke Posko sederhana yang dibangun di pinggir Jalan Herman Fernandez. Mereka melayani para peziarah sejak Rabu, 1 April 2026, (TribunFlores.Com, Jumat 3 April 2026).
Semana Santa bukan sekadar perayaan umat Katolik. Bagi masyarakat di sana, perayaan ini menjadi salah satu momentum untuk menghidupkan nilai-nilai toleransi. Apa yang dilakukan umat Muslim ini merupakan tindakan nyata. Karena bagi orang Flores, toleransi bukan slogan, tapi aksi!
Para peziara Semana Santa yang datang dari berbagai daerah menjadi saksi karya-karya sederhana yang dilakukan umat Muslim. Peristiwa ini tentu saja menjadi pengalaman luar biasa bagi peziarah yang baru pertama kali ke Flores. Namun, suasana ini bukan baru. Sudah menjadi tradisi yang melekat dalam sejarah umat beragama di sana. Kegiatan kecil, tapi berdampak besar. Membawa pesan perdamaian, persatuan dan kerukunan.
Apa yang dilakukan Umat Muslim bukan sekadar membagi makanan dan minuman gratis. Tapi mereka telah menjadi cahaya Kristus yang melayani.
Kehadiran umat Muslim di tengah ribuan umat Katolik juga menjadi cerminan bagaimana seharusnya kita saling mendukung. Saling menerima perbedaan. Sebab kita semua adalah sama sebagai saudara yang saling berhubungan satu sama lain.
Laboratorium Toleransi
Intoleransi masih menjadi persoalan yang serius di Indonesia. Beberapa tempat masih menjadi langganan sebagai daerah dengan indeks kerukunan yang buruk.

Dalam laporan terbaru yang dikeluarkan SETARA Institute pada Mei 2025, hanya ada 10 kota yang berhasil menjaga iklim keberagaman. Mereka menerapkan aturan daerah yang mampu mencegah radikalisme, diskriminasi, serta kekerasan terhadap kelompok minoritas.
Di tengah kondisi seperti itu, masyarakat Flores memberi contoh agar menjadi inspirasi bagi masyarakat di daerah lain. Apa yang dilakukan umat Muslim di Larantuka merupakan gerakan moral. Dasarnya jelas atas nama kemanusiaan!
Mereka datang bukan karena dipaksa atau diminta. Tapi tersentuh atas kesadaran nurani untuk saling merangkul. Mereka memberi, melayani dan memeluk dengan cinta yang tulus.
Air minum, kopi, teh dan makanan ringan yang mereka bagikan itu bukan dilabeli pesanan untuk framing pujian. Mereka melayani karena kuatnya budaya dan kearifan lokal yang bertujuan untuk menumbuhkan nilai-nilai keberagaman.
Aksi kemanusiaan yang dilakukan umat Muslim di Larantuka diharapkan menjadi pelajaran yang harus dilakukan oleh seluruh warga negara. Pelajaran Larantuka telah menjadi gerakan inspiratif. Sebuah karya terbaik untuk mewarnai kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
Apa yang kita saksikan hari ini menjadi contoh bagaimana seharusnya menjaga perdamaian untuk terwujudnya keharmonisan sosial. Umat Muslim di Larantuka sudah membuat aksi solidaritas berempati yang diharapkan bisa berdampak ke seantero Nusantara.
Flores telah menjadi laboratorium tempat praktek toleransi. Kalau masih ragu dengan pandangan ini, silahkan datang dan saksikan bagaimana kehidupan umat beragama di Flores dan di Nusa Toleransi Terindah (NTT).
Oleh: Ervan Tou (Warga Flores)





