G. Borlak: Pelayanan Bentuk Cinta Untuk Gereja Katolik

by -3923 Views

Jakarta, TERBITINDO – Setiap umat Katolik dipanggil dan dipilih untuk menjadi Pelayan di mana pun berada.
Pelayanan tidak terbatas di gereja, tetapi dapat dilakukan melalui tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari, pekerjaan, dan keluarga.

Bagi Gondolpus Borlak pelayanan di Gereja merupakan bentuk kecintaan kepada Gereja Katolik yang universal.

Bagi dia, sebagai seorang Katolik, kita harus menjadi murid Yesus Kristus yang siap melayani dalam bentuk apa pun dan di mana saja.

Hal itu sesuai dengan pesan Injil Matius 20:28: “sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi anyak orang”.

Ayat ini menekankan kerendahan hati Yesus dan misi-Nya untuk berkorban, sekaligus menjadi teladan utama pelayanan yang berpusat pada kasih, bukan kekuasaan.

“Sebagai seorang umat Katolik yang taat, pelayanan merupakan bentuk kecintaan kepada Gereja universal. Apa pun pelayanan kita itu suatu yang terbaik bagi Tuhan,” kata Borlak, Sabtu, 4 April 2026.

Bertugas Sebagai Prodiakon

Sebagai mantan prajurit Kopassus, Borlak telah banyak melayani untuk Indonesia. Ia punya segudang pengalaman sampai ke pelosok Papua. Namun, ia tak lupa mengabdi dan menjadi pelayan bagi Gereja Katolik.

Ketika masih aktif di TNI, ia sudah aktif sebagai prodiakon di di Gereja Katolik Paroki St. Aloysius Gonzaga, Cijantung, Keuskupan Agung Jakarta (KAJ.

Selain sebagai pengusaha dan pengamat sosial politik dan lingkungan hidup, ia tak lupa memberi waktu untuk Gereja.

Pada perayaan Ibadat Jumat Agung, Jumat, 3 April 2026, ia kembali bertugas melayani umat di Gereja Katolik Paroki St. Aloysius Gonzaga, Cijantung, Keuskupan Agung Jakarta (KAJ, Jumat, 3 April 2026.

“Saya sangat senang menjadi pelayan umat. Apa yang saya lakukan sekali lagi sebagai bentuk kecintaan kepada Gereja Katolik. Walaupun pelayanan kita belum maksimal, tapi itu sudah terbaik bagi Tuhan,” tegas kandidat Doktor Prodi Ilmu Kependudukan dan Lingkungan Hidup UNJ ini.

Ia menyebut momentum Jumat Agung dan Paskah yang sedang dirayakan umat Katolik memiliki makna penting untuk merefleksi diri.

“Jumat Agung merupakan momen sakral bagi umat Kristiani untuk mengenang pengorbanan Yesus Kristus di kayu salib. Peristiwa ini tidak hanya menjadi simbol penderitaan, tetapi juga wujud kasih yang begitu besar bagi keselamatan umat manusia,” terang Borlak.

Karena itu ia mengajak agar kita harus menjadi teladan Yesus Kristus. Pelayanan salah satu bentuk keteladanan.

“Yesus datang bukan untuk menuntut pelayanan, tetapi untuk melayani sesama.
Yesus memberikan nyawa-Nya sebagai tebusan bagi dosa banyak orang,” ungkapnya.

Borlak juga menekankan untuk melayani Tuhan harus dilakukan dengan tulus dan tidak menuntut imbalan apa pun.

“Sebagai pelayan Tuhan harus dilaksanakan dengan senang hati, tulus dan ikhlas karena kita dipanggil dan di utus untuk melayani,” pungkasnya.***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.