Keteladanan dari Borong: Kepala Sekolah yang Memimpin dengan Hati

by -5 Views

NTT, TERBITINDO.COM — Setiap pagi di SMAN 5 Borong selalu diawali dengan pemandangan yang sama: langkah tenang seorang kepala sekolah yang menyusuri halaman sekolah. Di antara barisan ruang kelas yang berdiri sederhana dan pepohonan yang tumbuh di tepi lapangan, Emilia Samue hadir bukan sekadar sebagai pemimpin lembaga pendidikan, melainkan sebagai bagian dari denyut kehidupan sekolah itu sendiri. Dengan senyum yang tak pernah berubah, ia menyapa guru, staf, dan siswa satu per satu. Tidak ada sekat yang diciptakan oleh jabatan, tidak pula jarak yang dibangun oleh kewenangan.

Bagi warga SMAN 5 Borong, Emilia Samue bukan hanya sosok administratif yang bekerja di balik meja. Ia adalah figur pengayom yang hadir dalam keseharian mereka—mendengarkan, memahami, dan berjalan bersama. Kehadirannya di pagi hari menjadi penanda bahwa sekolah bukan sekadar tempat belajar, tetapi ruang hidup yang aman dan manusiawi.

Kantor kepala sekolah SMAN 5 Borong pun dikenal luas sebagai ruang yang pintunya hampir tak pernah tertutup. Dari ruangan sederhana itulah berbagai keputusan penting dirumuskan. Namun lebih dari itu, kantor tersebut menjadi tempat siswa menyampaikan keresahan, guru berdiskusi tentang pembelajaran, hingga orang tua mencari jalan keluar terbaik bagi pendidikan anak-anak mereka. Emilia Samue meyakini bahwa kepemimpinan sejati bukan tentang memberi perintah, melainkan tentang kesediaan untuk mendengar dan memahami setiap persoalan yang datang.

Sebagai pemimpin lembaga pendidikan di wilayah Borong, tantangan yang dihadapi jelas tidak ringan. Keterbatasan sarana dan prasarana, jarak tempuh siswa yang tidak dekat, serta latar belakang ekonomi keluarga yang beragam menjadi realitas sehari-hari. Namun, bagi Emilia Samue, semua itu bukan alasan untuk menyerah. Justru sebaliknya, keterbatasan tersebut menjadi bahan bakar semangatnya. Ia kerap menegaskan bahwa sekolah tidak boleh tunduk pada keadaan, sebab pendidikan adalah jalan panjang menuju perubahan yang lebih baik.

Dalam setiap rapat guru, satu hal selalu ia tekankan dengan konsisten: keteladanan. Menurutnya, siswa tidak hanya belajar dari buku dan papan tulis, tetapi juga dari sikap, tutur kata, dan perilaku orang dewasa di sekitarnya. Disiplin, kejujuran, dan tanggung jawab, baginya, harus terlebih dahulu hidup dalam diri para pendidik sebelum ditanamkan kepada peserta didik. Dari sanalah pendidikan karakter menemukan maknanya yang paling nyata.

Kepemimpinannya di SMAN 5 Borong juga tercermin dalam dorongan kuat terhadap pembelajaran yang aktif dan bermakna. Guru-guru didorong untuk tidak terpaku pada metode lama, tetapi berani mencoba pendekatan baru yang lebih kontekstual dengan kehidupan siswa. Emilia Samue memahami bahwa siswa di Borong memiliki potensi besar yang hanya membutuhkan ruang, kepercayaan, dan pendampingan yang tepat untuk berkembang.

Tak jarang, ia turun langsung ke ruang kelas. Kehadirannya bukan untuk mencari kekurangan, melainkan untuk melihat denyut pembelajaran secara nyata. Dari sana, ia mendapatkan gambaran apa saja yang perlu diperbaiki dan dikembangkan. Bagi siswa, kehadiran kepala sekolah di kelas sering kali menghadirkan rasa diperhatikan, bukan diawasi—sebuah pengalaman kecil yang memberi dampak besar pada kepercayaan diri mereka.

Di luar jam pelajaran, perhatiannya tidak pernah surut. Emilia Samue aktif mendukung kegiatan ekstrakurikuler, meyakini bahwa sekolah adalah ruang tumbuh yang utuh. Lapangan sekolah menjadi saksi bagaimana ia berdiri di pinggir, menyemangati siswa yang berlatih olahraga, seni, maupun kepramukaan. Baginya, setiap anak memiliki bakat yang layak dihargai dan diberi kesempatan untuk berkembang.

Hubungannya dengan masyarakat sekitar sekolah pun terjalin erat. Ia rutin menjalin komunikasi dengan tokoh masyarakat dan orang tua siswa, menyadari bahwa pendidikan tidak mungkin berjalan sendiri tanpa dukungan lingkungan. Di bawah kepemimpinannya, SMAN 5 Borong berupaya menjadi sekolah yang terbuka, hadir, dan menyatu dengan denyut kehidupan masyarakat Borong.

Bagi Emilia Samue, jabatan kepala sekolah bukanlah puncak karier, melainkan sebuah amanah. Amanah untuk menjaga harapan orang tua, membimbing generasi muda, dan memastikan sekolah tetap menjadi tempat yang aman serta bermakna bagi siswa. Ia menyadari sepenuhnya bahwa hasil kerja seorang pendidik tidak selalu terlihat secara instan, tetapi akan tumbuh perlahan dalam perjalanan panjang hidup anak-anak didiknya.

Ketika matahari mulai condong ke barat dan aktivitas sekolah berangsur usai, ia masih kerap terlihat menyelesaikan pekerjaan di kantornya. Dari balik meja kerja itu, hari esok dirancang dengan penuh kehati-hatian. Sebab baginya, setiap hari di SMAN 5 Borong adalah kesempatan baru untuk memperbaiki, melayani, dan menyalakan harapan.

Di sekolah yang mungkin sederhana secara fisik, kepemimpinannya menghadirkan kekuatan yang tak kasatmata: kepercayaan, ketulusan, dan komitmen pada pendidikan. Dari sanalah SMAN 5 Borong terus melangkah, dipandu oleh seorang kepala sekolah yang memilih untuk memimpin dengan hati.

Maria Prisilia Elipa Munan

Mahasiswa UNIKA St. Paulus Ruteng

Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.