Jakarta, TERBITINDO.COM – Aktivitas vulkanik Gunung Ile Lewotolok yang berada di Kabupaten Lembata, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTB), kembali menunjukkan peningkatan signifikan. Dalam kurun waktu satu hari, intensitas erupsi gunung api tersebut tercatat melonjak tajam, mencerminkan dinamika aktivitas magma yang terus berkembang di puncak gunung.
Petugas Pos Pemantau Gunung Ile Lewotolok melaporkan bahwa sepanjang periode pengamatan sejak pukul 00.00 WITA hingga 24.00 WITA, Selasa (13/1), telah terjadi ratusan kali letusan. Data ini memperlihatkan bahwa aktivitas erupsi tidak hanya berlangsung terus-menerus, tetapi juga menunjukkan kecenderungan peningkatan dibandingkan hari-hari sebelumnya.
“Cukup intensif letusan di puncak Gunung Ile Lewotolok, dimana dari catatan yang didapat terhitung sejak 00.00 WITA hingga 24.00 WITA (Selasa 13/1) terdapat 341 kali letusan,” kata Pengamat Pos Pemantau Gunung Ile Lewotolok Stanislaus Ara Kian di Kupang, Rabu.
Pernyataan tersebut disampaikan Stanislaus saat dikonfirmasi terkait laporan harian aktivitas Gunung Ile Lewotolok yang hingga kini masih berada pada status waspada. Status ini menandakan bahwa meskipun belum memasuki fase darurat, potensi bahaya tetap ada dan perlu diantisipasi secara serius oleh semua pihak.
Peningkatan Dibanding Hari Sebelumnya
Lebih lanjut, Stanislaus menjelaskan bahwa jumlah letusan yang tercatat pada Selasa (13/1) tersebut mengalami peningkatan yang cukup nyata jika dibandingkan dengan hari sebelumnya. Pada Senin (12/1), aktivitas erupsi Gunung Ile Lewotolok tercatat sebanyak 281 kali letusan, sehingga lonjakan menjadi 341 kali letusan dalam satu hari menunjukkan tren peningkatan yang tidak bisa diabaikan.
Menurut dia, peningkatan intensitas ini bukanlah fenomena yang terjadi secara tiba-tiba. Aktivitas erupsi yang semakin sering dan kuat mulai teramati sejak awal Januari.
Stanislaus menambahkan bahwa peningkatan intensitas erupsi tersebut mulai terjadi sejak 4 Januari 2026, yang ditandai dengan munculnya erupsi berintensitas sedang di puncak gunung. Sejak saat itu, aktivitas vulkanik terus mengalami fluktuasi dengan kecenderungan meningkat, baik dari segi frekuensi maupun kekuatan letusan.
Kondisi Visual Letusan
Dari hasil pengamatan visual, ratusan letusan yang terjadi sepanjang hari tersebut disertai dengan semburan abu vulkanik yang cukup jelas terlihat. Tinggi kolom abu tercatat bervariasi, namun secara umum berada pada kisaran yang berpotensi mengganggu lingkungan sekitar.
Lebih lanjut, kata dia, secara visual 341 kali letusan tersebut disertai dengan tinggi abu yang mencapai 200 hingga 350 meter dan berwarna asap putih dan kelabu. Kondisi ini menunjukkan adanya material vulkanik yang terus dimuntahkan dari kawah, meskipun belum menunjukkan tanda-tanda erupsi eksplosif berskala besar.
Rekomendasi untuk Masyarakat
Dengan semakin meningkatnya intensitas letusan atau erupsi Gunung Ile Lewotolok, pihak Pos Pemantau Gunung Api mengeluarkan sejumlah rekomendasi penting sebagai langkah mitigasi risiko bagi masyarakat dan pengunjung.
Beberapa rekomendasi yang dikeluarkan yakni masyarakat yang bermukim di sekitar Gunung Ile Lewotolok, maupun para pengunjung, pendaki, dan wisatawan, diminta untuk tidak memasuki serta tidak melakukan aktivitas apa pun di dalam wilayah radius dua kilometer dari pusat aktivitas gunung tersebut.
“Serta tidak melintas di sektoral selatan dan tenggara, dan barat, sejauh 2,5 km dari pusat aktivitas Gunung Ile Lewotolok,” ujar dia.
Imbauan ini ditekankan sebagai upaya pencegahan terhadap potensi bahaya seperti lontaran material pijar, abu vulkanik, maupun gas berbahaya yang sewaktu-waktu dapat meningkat seiring dengan dinamika aktivitas gunung. Masyarakat diharapkan tetap tenang, waspada, serta terus mengikuti informasi resmi dari pihak berwenang guna memastikan keselamatan bersama. (JT)







