Menjadi Jembatan di Tanah Suci yang Terbelah

by -11 Views

Jakarta, TERBITINDO.COM – Di bawah terik matahari Sabtu siang yang cerah pada pertengahan Oktober, dari sebuah balkon biara utama Comboni di Yerusalem Timur, Suster Mariolina Cattaneo berdiri sambil menunjuk ke arah tembok pemisah — atau yang kerap pula disebut penghalang pemisah — yang menjulang hanya beberapa meter dari tempat ia berdiri. Tembok itu bisu, kokoh, dan dingin, tetapi bagi Suster Cattaneo, ia berbicara banyak tentang ironi dan luka yang belum sembuh di Tanah Suci.

Ia menyebut pembangunan tembok itu sebagai sesuatu yang sia-sia. Sebuah struktur yang dimaksudkan untuk menjamin keamanan Israel, namun ironisnya dibangun dengan tenaga kerja Palestina. Segmen tembok di dekat kediaman Comboni sendiri selesai pada tahun 2009, dan sejak itu menjadi penanda visual yang tak terelakkan dari perpecahan yang nyata.

“Pada akhirnya, tembok tidak memisahkan,” kata Suster Cattaneo, koordinator sementara komunitas Suster Misionaris Comboni.

Baginya, penghalang sepanjang sekitar 700 kilometer itu — yang di beberapa tempat bahkan dua kali lebih tinggi dari Tembok Berlin — suatu hari kelak akan dibongkar dan dikenang sebagai peninggalan dari sebuah masa yang menyedihkan.

“Ini adalah salah satu hal yang akan diingat sejarah sebagai sesuatu yang sama sekali tidak perlu,” ujarnya pelan namun tegas.

“Tidak masuk akal. Ini menyedihkan. Ini berbicara tentang sesuatu yang tidak dapat bertahan lama. Sebuah perpecahan yang tidak akan bertahan lama.” Meski demikian, ia tidak menutup mata: untuk saat ini, perpecahan itu masih begitu kuat dan sangat nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Realitas itu dialami langsung oleh komunitas Suster Comboni di wilayah Yerusalem Raya. Ada dua kelompok suster yang melayani di sana. Kelompok pertama berada di Betania, atau Al-Eizariya dalam bahasa Arab, di wilayah Tepi Barat yang diduduki. Kelompok kedua tinggal di Yerusalem Timur, yang secara geografis juga bagian dari Tepi Barat, namun diklaim oleh Israel.

Keberadaan tembok pemisah membuat jarak yang seharusnya hanya tiga menit berjalan kaki dari satu komunitas ke komunitas lain berubah menjadi perjalanan darat sejauh 17 kilometer. Perjalanan itu harus ditempuh dengan mobil atau bus, dan jika lalu lintas padat — terutama karena pos pemeriksaan keamanan — waktu tempuhnya bisa mencapai dua jam.

“Ini satu komunitas, tetapi kami dipisahkan oleh tembok,” kata Suster Cecilia Sierra asal Meksiko, yang bersama Suster Lourdes García juga dari Meksiko, melayani di Al-Eizariya.

Di seluruh wilayah Yerusalem, terdapat tujuh Suster Comboni: lima tinggal di kediaman Yerusalem Timur, sementara dua lainnya berada di Al-Eizariya. Di tengah keterpisahan fisik itu, mereka menyimpan harapan yang sama: kehadiran mereka dapat menjadi jembatan di tanah yang terpecah.

Dengan cara-cara yang sederhana namun bermakna, para suster berusaha membangun relasi yang mencerminkan kehidupan, pelayanan, dan teladan Yesus. Mereka melakukannya dengan keyakinan mendalam bahwa, seperti yang ditegaskan Suster Cattaneo, “Jika Anda membangun tembok, kami akan menemukan solusinya.”

“Orang selalu menemukan cara untuk mengatasi tembok, untuk mengatasi perpecahan,” katanya lagi.

Baginya, tantangan terbesar saat ini adalah bagaimana menghentikan rasa takut yang tumbuh di antara manusia. “Satu-satunya hal yang masuk akal adalah membuat orang saling berbicara.”

Setelah 7 Oktober 2023, ‘dunia berubah’

Di tengah ketegangan politik dan sosial yang terus berlangsung, keluarga besar Comboni tetap berpegang pada komitmen untuk memelihara harapan. Namun, serangan brutal Hamas pada 7 Oktober 2023, disertai penculikan dan pembunuhan warga sipil Israel, menjadi titik balik yang menghentikan banyak upaya dialog yang sebelumnya telah dibangun.

Sebelum peristiwa itu, para suster aktif membangun jembatan dialog antara perempuan Yahudi dan Kristen Palestina, termasuk melalui pertemuan lintas agama dan lintas budaya di kediaman Comboni. Tragedi Gaza membuat semua inisiatif tersebut terhenti.

Meski demikian, para suster menegaskan kesiapan mereka untuk kembali membangun dialog di masa depan. Untuk saat ini, bahkan dengan gencatan senjata yang rapuh, kekhawatiran keamanan dan kewaspadaan yang tinggi di kedua belah pihak membuat upaya itu sulit diwujudkan.

“Kita akan melakukannya pada waktunya,” kata Suster Cattaneo dengan nada penuh keyakinan.

Suster Lourdes García merangkum perubahan besar itu dengan sederhana: “Dunia telah berubah.” Namun ia menegaskan bahwa ada satu hal yang tidak berubah, yakni keyakinan bahwa “kita semua adalah putra dan putri dari satu Tuhan.”

Suster Cattaneo sendiri tiba dari Italia tak lama setelah perang di Gaza dimulai. Ia merasakan bahwa baik orang Yahudi maupun Palestina sama-sama terkejut, terluka, dan dibebani ketidakpastian.

Kenangan tentang masa-masa dialog sebelumnya masih hidup dalam ingatan Suster Lorena Sesatty dari Meksiko. Ia mengenang dengan penuh kasih saat orang-orang dari berbagai bangsa berbagi kehidupan komunitas, tinggal bersama untuk jangka pendek atau panjang. Realitas itu mencerminkan wajah internasional para suster Comboni sendiri: di kediaman Yerusalem Timur, lima suster berasal dari Italia, Meksiko, dan Mesir.

Pelayanan yang Berlanjut di Tengah Luka

Di tengah situasi yang sulit, pelayanan para suster Comboni tidak berhenti. Suster Sesatty, seorang terapis terlatih, bekerja di Betlehem dalam layanan konseling yang mendukung keluarga, pasangan, dan kaum muda yang mengalami tekanan psikologis — sesuatu yang kerap dialami penduduk Tepi Barat.

Ia menyaksikan langsung dampak ekonomi yang porak-poranda. Banyak warga Palestina tidak dapat kembali bekerja di Israel karena izin keamanan mereka tidak diperpanjang. “Ada beban berat saat ini,” katanya, merujuk pada kenyataan pahit bahwa banyak orang kehilangan mata pencaharian.

Masalah lain pun muncul: meningkatnya alkoholisme, kecanduan zat kimia, serta “keretakan identitas.” Trauma menjadi pengalaman sehari-hari. “Ketika Anda pergi ke masyarakat,” katanya, “orang-orang mengalami trauma.”

Menjaga Harapan Tetap Hidup di Komunitas Bedouin

Di Tepi Barat, Suster Sierra dan Suster García melayani komunitas Bedouin — sebuah pelayanan yang telah berlangsung sejak 1966 dan memasuki babak baru pada Mei 2011. Melalui program “Benang Perdamaian,” mereka mendampingi sekitar 200 perempuan Bedouin Jahalin di 11 desa di Gurun Yudea.

Lewat lokakarya, para perempuan dilatih membuat sulaman, menjahit, dan memproduksi sabun. Hasilnya bukan sekadar produk, melainkan penghasilan yang menopang keluarga dan menjaga martabat.

“Ini adalah jalur kehidupan vital yang memperkuat komunitas dan menjaga harapan tetap hidup,” kata Suster Sierra.

Suatu Rabu pagi, dalam perjalanan menuju tiga desa Bedouin, ia menyebut pekerjaannya sebagai “pelajaran tentang begitu banyak hal,” termasuk tentang apa artinya menjadi manusia. Dalam keterbatasan hukum dan kerentanan ekstrem yang dialami masyarakat Bedouin, menegaskan kemanusiaan setiap orang menjadi sangat penting.

“Anda tidak bisa mengatakan satu orang adalah manusia dan yang lain bukan,” tegas Suster García.

Kehidupan di desa-desa itu penuh tantangan: jalan berlubang, panas menyengat, dan ancaman penggusuran. Namun sambutan hangat para perempuan Bedouin terasa seperti keluarga. “Kami adalah bagian dari keluarga dan kami dipanggil bibi,” kata Suster Sierra sambil tersenyum.

Di balik tawa dan kerja bersama, tersimpan pula ketakutan. Ancaman pemukim Israel, jet tempur yang melintas rendah, kamera pengawas, dan kekhawatiran akan keselamatan membuat para perempuan enggan dipotret atau disebutkan namanya.

Kebijaksanaan dari Rasul Paulus

Bagi Suster Cattaneo, tembok pemisah memiliki makna simbolis yang kuat secara biblis. Ia mengutip Surat Paulus kepada Jemaat Efesus (2:14): “Karena Dialah damai sejahtera kita; dalam daging-Nya Ia telah mempersatukan kedua golongan itu menjadi satu dan telah meruntuhkan tembok pemisah, yaitu permusuhan di antara kita.”

Ia percaya, kebencian ideologis pada akhirnya akan pudar. Orang-orang biasa — Yahudi dan Palestina — masih mampu berbagi tawa di jalan. Orang Kristen, menurutnya, memiliki peran khas karena identitas mereka melampaui batas-batas nasional.

“Menjadi Kristen berarti Anda adalah bagian dari sesuatu yang universal,” katanya.

Bagi Suster García, dilihat sebagai “wajah Gereja” dan “titik pertemuan” di tengah komunitas Bedouin adalah anugerah. Ia menegaskan pentingnya tidak larut dalam politik, tetapi “selalu berada di pihak keadilan,” sambil terus meyakinkan komunitas bahwa “Tuhan mengasihi mereka, Tuhan masih ada di sini, Tuhan ingin mereka menjalani kehidupan yang lebih baik.”

Di tengah hubungan yang rapuh dan tegang di Tanah Suci, Suster Cattaneo melihat orang-orang beritikad baik sebagai “benih proses perdamaian.” Meski “budaya pemisahan” masih kuat, ia bersyukur bahwa kelompok-kelompok yang berkomitmen pada perdamaian dan dialog tetap ada — termasuk para Suster Misionaris Comboni, yang dengan setia memilih menjadi jembatan di tanah yang terbelah. (JT)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.