Jakarta, TERBITINDO.COM – Proses pelunasan biaya perjalanan ibadah haji (Bipih) untuk jamaah calon haji tahun 2026 menunjukkan progres yang sangat menggembirakan. Hingga Rabu sore, Kementerian Haji dan Umrah mencatat tingkat pelunasan jamaah calon haji reguler telah mencapai 95,42 persen, sementara jamaah calon haji khusus bahkan sudah berada di kisaran 96 persen. Capaian ini menandai kesiapan yang semakin matang dalam penyelenggaraan ibadah haji tahun depan.
Menteri Haji dan Umrah RI, Mohammad Irfan Yusuf, menyampaikan optimismenya bahwa proses pelunasan akan segera rampung sepenuhnya. Ia menegaskan bahwa masih tersedia waktu dua hari bagi jamaah untuk menyelesaikan kewajiban tersebut.
“Masih ada waktu dua hari untuk pelunasan dan Insya Allah dalam dua hari ke depan kita bisa mencapai 100 persen,” kata Menteri Haji dan Umrah RI Mohammad Irfan Yusuf di Jakarta, Kamis.
Pada penyelenggaraan ibadah haji tahun 2026, Indonesia memperoleh kuota haji sebanyak 221.000 orang. Kuota tersebut terbagi menjadi 203.320 jamaah haji reguler atau sekitar 92 persen, serta 17.680 jamaah haji khusus atau 8 persen. Pembagian ini telah sesuai dengan ketentuan dalam Undang-undang Penyelenggaraan Haji, sehingga menjadi dasar kuat bagi pemerintah dalam menyiapkan seluruh aspek layanan haji secara proporsional dan terukur.
Lebih lanjut, Irfan menegaskan bahwa jamaah yang telah melakukan pelunasan biaya haji dipastikan telah menjalani pemeriksaan kesehatan istitha’ah. Pemeriksaan kesehatan pada musim haji 2026 dilakukan dengan standar yang lebih ketat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Kebijakan ini bukan tanpa alasan, melainkan sebagai bentuk tanggung jawab pemerintah dalam memastikan keselamatan dan kenyamanan jamaah selama menjalankan rangkaian ibadah di Tanah Suci.
“Ini juga untuk mengakomodasi permintaan dari Kementerian Haji Saudi agar jamaah haji yang berangkat benar-benar siap secara fisik, bukan hanya secara mental,” kata Irfan.
Meski menerapkan standar kesehatan yang lebih ketat, pemerintah tetap menempatkan layanan medis sebagai prioritas utama. Menurut Irfan, aspek kesehatan jamaah menjadi perhatian serius dalam seluruh tahapan penyelenggaraan haji, mulai dari persiapan di dalam negeri hingga pelaksanaan ibadah di Arab Saudi.
“Kesehatan jamaah, menurutnya, menjadi fokus dalam seluruh rangkaian persiapan,” ujarnya menegaskan komitmen pemerintah dalam memberikan perlindungan maksimal kepada jamaah.
Sejalan dengan kesiapan jamaah, pemerintah juga memastikan kesiapan para petugas haji yang akan bertugas di Tanah Suci. Irfan menekankan bahwa petugas haji merupakan representasi langsung kehadiran negara dalam melayani jamaah. Oleh karena itu, mereka harus dipersiapkan secara optimal, baik dari sisi kompetensi, fisik, maupun mental.
“Petugas haji adalah perwakilan layanan negara kepada jamaah haji. Karena itu kita siapkan mereka selama satu bulan agar benar-benar siap memberikan pelayanan terbaik,” kata dia.
Proses rekrutmen petugas haji pun dilakukan secara terbuka dengan menjunjung tinggi prinsip bersih, jujur, dan transparan. Mekanisme ini sengaja diterapkan agar seluruh tahapan dapat diawasi oleh publik serta menghasilkan petugas yang profesional dan berintegritas.
Dalam kesempatan yang sama, Irfan mengungkapkan bahwa hari tersebut menjadi penutupan kegiatan training of trainers (TOT) bagi para fasilitator petugas haji. Sebanyak 179 fasilitator telah disiapkan untuk membina dan mendampingi para petugas haji selama masa persiapan.
“Hari ini merupakan penutupan training of trainers (TOT) bagi para fasilitator petugas haji. Ada sekitar 179 fasilitator yang akan membina dan menyiapkan petugas haji,” katanya.
Ia juga menjelaskan bahwa pendidikan dan pelatihan (diklat) bagi petugas haji akan dimulai pada 10 Januari 2026. Diklat ini akan berlangsung selama satu bulan di dalam negeri sebelum para petugas diberangkatkan ke Arab Saudi. Selama masa tersebut, para petugas akan dibekali dengan berbagai materi penting yang menunjang tugas mereka di lapangan.
“Pertama kesiapan fisik, kedua pemahaman tentang tugas yang akan dilakukan di Saudi, ketiga pembekalan fikih haji, dan juga bahasa Arab standar yang Insya Allah bermanfaat saat melayani jamaah di sana,” ujarnya.
Dengan progres pelunasan yang hampir tuntas, kesiapan jamaah yang semakin matang, serta petugas haji yang dipersiapkan secara komprehensif, pemerintah optimistis penyelenggaraan ibadah haji 2026 dapat berjalan lebih baik, tertib, dan memberikan pelayanan maksimal bagi seluruh jamaah Indonesia. (JT)
