Jakarta, TERBITINDO.COM – Indonesia sejak lama dikenal sebagai negeri dengan keberagaman budaya, suku, dan agama yang luar biasa. Dari Sabang sampai Merauke, setiap daerah memiliki karakter sosial dan historis yang berbeda-beda. Di antara banyak fakta unik tersebut, terdapat satu fenomena menarik yang kerap memunculkan rasa ingin tahu: dua provinsi yang bertetangga di kawasan Nusa Tenggara, yakni Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Nusa Tenggara Timur (NTT), justru memiliki komposisi agama yang sangat kontras.
NTB dikenal sebagai wilayah dengan penduduk mayoritas Islam. Bahkan, daerah ini populer dengan sebutan Pulau Seribu Masjid karena kuatnya identitas keislaman yang tercermin dalam kehidupan sosial, budaya, hingga lanskap wilayahnya. Sebaliknya, NTT justru menjadi salah satu provinsi dengan populasi Kristen terbesar di Indonesia, baik Katolik maupun Protestan. Perbedaan mencolok ini tentu tidak hadir secara tiba-tiba, melainkan merupakan hasil dari proses sejarah panjang yang berlangsung selama berabad-abad.
Perjalanan waktu, jalur perdagangan, pengaruh kerajaan, hingga kekuasaan kolonial menjadi faktor utama yang membentuk identitas keagamaan di kedua wilayah tersebut. Meski secara geografis berdekatan, NTB dan NTT menempuh jalur sejarah yang berbeda, sehingga menghasilkan wajah keagamaan yang juga tidak sama.
Awal Mula Penyebaran Islam di NTB
Masuknya Islam ke wilayah NTB terjadi melalui beberapa jalur utama, seperti aktivitas perdagangan, dakwah para ulama, serta pengaruh kerajaan-kerajaan Islam. Pulau Lombok menjadi pintu awal masuknya Islam, mengingat posisinya yang strategis dan berada di jalur perdagangan laut yang sudah ramai sejak abad ke-14.
Salah satu tokoh penting dalam proses Islamisasi Lombok adalah Sunan Prapen, putra dari Sunan Giri. Ia diperintahkan untuk berdakwah dan menyebarkan ajaran Islam di wilayah tersebut. Namun, sebelum Islam benar-benar mengakar, masyarakat Lombok telah mengalami beberapa kali perubahan keyakinan seiring dengan pergantian kekuasaan.
Pada abad ke-9, ketika Kerajaan Sriwijaya berkuasa, masyarakat setempat menganut agama Buddha. Setelah Sriwijaya dikalahkan oleh Majapahit, suku Sasak—yang merupakan suku asli Lombok—beralih memeluk agama Hindu. Dinamika ini menunjukkan bahwa masyarakat Lombok telah lama terbuka terhadap pengaruh luar, termasuk dalam hal kepercayaan.
Memasuki abad ke-16, Kerajaan Majapahit mulai runtuh akibat tekanan dari kekuatan Islam, termasuk Kesultanan Giri. Menjelang tahun 1545, Sunan Prapen mulai secara intensif menyiarkan ajaran Islam di Lombok. Strategi dakwah yang menyasar para penguasa terbukti efektif. Ketika para pemimpin menerima Islam, rakyat pun mengikuti. Tidak membutuhkan waktu lama, pada abad ke-17 Kerajaan Bima dan Kerajaan Dompu turut memeluk Islam, dan ajaran ini dengan cepat menyebar hampir ke seluruh wilayah NTB.
Hingga terhitung tahun 2024, umat Muslim di NTB mencapai 96,9 persen atau sekitar 5,49 juta jiwa. Angka ini semakin menegaskan kuatnya identitas Islam yang telah berakar lama di daerah tersebut.
Proses Masuk dan Berkembangnya Agama Kristen di NTT
Berbeda dengan NTB, perjalanan keagamaan NTT memiliki alur sejarah yang lebih kompleks. Pada abad ke-13, Islam sebenarnya dipercaya pernah masuk ke wilayah ini, tepatnya di Pulau Solor. Islam dibawa oleh Imam Patiduri atau Sayyid Rifaduddin Al-Fatih yang berasal dari Hadramaut. Meski saat ini NTT dikenal sebagai provinsi dengan mayoritas nonmuslim, sejarah mencatat bahwa pernah berdiri kerajaan-kerajaan kecil yang dipimpin oleh masyarakat Muslim di wilayah ini.
Keberadaan Imam Patiduri tidak hanya tercatat dalam cerita lisan, tetapi juga diperkuat dengan adanya makam beliau serta pengakuan dari para keturunannya. Bahkan ketika bangsa Portugis datang dengan ambisi menguasai wilayah tersebut, masyarakat setempat melakukan perlawanan sengit, menunjukkan bahwa Islam sempat memiliki pengaruh yang cukup kuat.
Namun, situasi mulai berubah pada abad ke-16 ketika bangsa Portugis tiba di NTT. Selain membawa kepentingan ekonomi, mereka juga mengusung misi rohani. Sekitar tahun 1556, misionaris Katolik dari Ordo Dominikan mendirikan pos misi pertama di Pulau Solor. Dari sinilah ajaran Katolik menyebar ke wilayah Flores, Lembata, dan Timor. Menjelang akhir abad ke-16, tercatat sekitar 25.000 orang telah dibaptis.
Dominasi Katolik sempat mengalami kemunduran pada abad ke-18 ketika VOC Belanda masuk dan mengusir para imam Katolik. Namun pada abad ke-19, misi Katolik kembali aktif dan berkembang pesat di wilayah Ende, Maumere, Larantuka, dan Atambua.
Sementara itu, di wilayah barat dan selatan NTT, ajaran Kristen Protestan berkembang lebih dominan. Sejak tahun 1860-an, Belanda secara aktif menyebarkan Protestanisme di Kupang, Rote, dan Sabu. Pada 1899, jumlah penganut Kristen Protestan mencapai sekitar 15.000 jiwa, dan terus meningkat menjadi 57.000 orang pada tahun 1938.
Berdasarkan data tahun 2024, jumlah penduduk Kristen di NTT mencapai sekitar 5,05 juta jiwa, dengan rincian 3,05 juta Katolik dan 2,05 juta Protestan. Angka ini menegaskan posisi NTT sebagai salah satu pusat populasi Kristen terbesar di Indonesia.
Tetap Harmonis di Tengah Perbedaan Identitas
Meski memiliki latar belakang dan identitas agama yang berbeda, masyarakat NTB dan NTT tetap mampu hidup berdampingan secara harmonis. Interaksi antarwarga terus terjalin melalui berbagai bidang, mulai dari pendidikan, perdagangan, hingga migrasi. Perbedaan keyakinan tidak menjadi sekat yang menghalangi hubungan sosial, melainkan justru menjadi bagian dari mozaik keberagaman Indonesia.
Sejarah panjang yang membentuk NTB sebagai wilayah mayoritas Islam dan NTT sebagai daerah dengan dominasi Kristen pada akhirnya mengajarkan satu hal penting: perbedaan adalah keniscayaan, dan harmoni adalah pilihan yang terus dijaga oleh masyarakatnya.(JT)





