Jakarta, TERBITINDO.COM – Perbincangan publik dalam beberapa waktu terakhir tidak hanya berkutat pada isu kebijakan dan dinamika politik nasional, tetapi juga merembet ke persoalan fisik Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Salah satu topik yang ramai diperbincangkan adalah kondisi matanya yang oleh sebagian orang dinilai tampak “mengantuk”. Dari sinilah kemudian muncul istilah medis ptosis yang menjadi sorotan luas masyarakat.
Istilah ptosis mencuat ke ruang publik setelah penyanyi sekaligus dokter bedah plastik, Tompi, melontarkan kritik terhadap materi komedi Pandji Pragiwaksono. Dalam pertunjukan Mens Rea, Pandji menyinggung kondisi mata Gibran sebagai bagian dari materi humornya. Kritik Tompi bukan semata ditujukan pada isi lelucon, melainkan pada cara kondisi fisik seseorang dijadikan bahan candaan. Menurut Tompi, mata yang terlihat sayu atau mengantuk bukanlah ekspresi atau gestur yang disengaja, melainkan kondisi anatomi yang dalam dunia medis dikenal sebagai ptosis.
Polemik pun tak terhindarkan. Tompi menilai bahwa menjadikan kondisi fisik sebagai bahan lelucon bukanlah bentuk kritik yang cerdas. Alih-alih mengajak publik berpikir kritis, hal tersebut justru berpotensi mengaburkan isu-isu substantif yang seharusnya menjadi perhatian utama. Dari sinilah diskusi kemudian bergeser, tidak lagi sekadar soal komedi atau etika humor, tetapi juga mengenai pemahaman masyarakat terhadap kondisi medis bernama ptosis.
Lantas, apa sebenarnya ptosis itu?
Dilansir dari Health, ptosis adalah kondisi ketika kelopak mata atas terkulai sehingga menutupi sebagian, bahkan dalam kasus tertentu, seluruh pupil mata. Kondisi ini terjadi akibat adanya gangguan pada otot levator, yaitu otot yang berperan penting dalam mengangkat kelopak mata atas. Dalam perspektif medis, ptosis tidak berkaitan langsung dengan kurang tidur atau kelelahan, meskipun secara visual sering kali disalahartikan sebagai mata sayu atau tampak mengantuk. Ptosis dapat terjadi pada satu mata maupun kedua mata, dengan tingkat keparahan yang berbeda-beda pada setiap individu.
Lebih jauh, ptosis dapat muncul sejak seseorang dilahirkan atau baru berkembang ketika memasuki usia dewasa. Ptosis bawaan atau kongenital terjadi akibat otot kelopak mata yang tidak berkembang secara sempurna sejak lahir. Sementara itu, pada orang dewasa, dikenal istilah ptosis involusional, yang umumnya berkaitan dengan proses penuaan, cedera pada mata, atau perubahan struktur otot kelopak mata seiring bertambahnya usia.
Tidak hanya itu, ptosis juga bisa disebabkan oleh kerusakan saraf. Kondisi medis seperti sindrom Horner, diabetes yang tidak terkontrol, tekanan darah tinggi, hingga penyakit autoimun seperti myasthenia gravis dapat memicu terjadinya ptosis. Dalam beberapa kasus lain, ptosis muncul sebagai efek samping pascaoperasi mata, termasuk operasi katarak atau prosedur refraktif. Jika kelopak mata yang terkulai menutupi jalur masuk cahaya ke mata, kondisi ini dapat berdampak langsung pada kualitas penglihatan penderitanya.
Gejala yang dialami penderita ptosis pun tidak hanya terbatas pada perubahan tampilan mata. Beberapa orang mengeluhkan mata yang cepat lelah, penglihatan ganda, hingga nyeri di area dahi. Tidak jarang pula penderita tanpa sadar mendongakkan kepala atau mengangkat alis secara berlebihan agar dapat melihat lebih jelas, sebagai bentuk kompensasi terhadap kelopak mata yang terkulai.
Terkait penanganan, ptosis tidak selalu memerlukan tindakan medis. Disarikan dari Cleveland Clinic dan American Academy of Ophthalmology, ptosis yang tidak mengganggu penglihatan atau aktivitas sehari-hari dapat dibiarkan tanpa perawatan khusus. Namun, apabila kondisi ini memengaruhi fungsi visual atau menurunkan kualitas hidup, penanganan medis menjadi penting. Pilihan terapi dapat berupa penggunaan obat tetes mata tertentu hingga tindakan operasi untuk memperbaiki otot kelopak mata yang bermasalah.
Dokter bedah plastik okulo-fasial sekaligus juru bicara American Academy of Ophthalmology, Dr. Philip Rizzuto, menekankan urgensi penanganan ptosis, terutama pada anak-anak. “Seorang anak tidak akan mengembangkan penglihatan normal jika kelopak mata menghalangi mata, karena rangsangan cahaya dan warna dibutuhkan untuk perkembangan saraf mata dan otak,” ujar Rizzuto. Pernyataan ini menegaskan bahwa ptosis bukan sekadar persoalan estetika, melainkan juga berkaitan erat dengan fungsi penglihatan dan perkembangan saraf.
Melalui polemik yang berkembang, publik diingatkan akan pentingnya memahami perbedaan antara ekspresi, gestur, dan kondisi medis. Ptosis, sebagaimana dijelaskan oleh para ahli, adalah kondisi anatomi yang memiliki dasar ilmiah dan implikasi kesehatan yang nyata. Pemahaman yang utuh diharapkan dapat mendorong diskusi publik yang lebih empatik, berimbang, dan berfokus pada substansi. (JT)





