Jakarta, TERBITINDO.COM – Peta persaingan industri makanan cepat saji di India bersiap mengalami perubahan besar. Dua operator utama waralaba KFC dan Pizza Hut di negara tersebut, Devyani International Limited (DIL) dan Sapphire Foods India Limited, secara resmi mengumumkan langkah strategis berupa merger bernilai 934 juta dolar AS atau setara sekitar Rp15,6 triliun (dengan kurs Rp16.702 per dolar AS). Pengumuman penting ini disampaikan pada Jumat (2/1/2026), menandai babak baru dalam konsolidasi bisnis restoran cepat saji di India.
Melalui penggabungan ini, entitas baru hasil merger akan mengelola lebih dari 3.000 gerai KFC dan Pizza Hut, yang seluruhnya merupakan waralaba dari Yum Brands. Jaringan masif tersebut tidak hanya beroperasi di India, tetapi juga merambah pasar internasional. Dengan skala ini, entitas gabungan akan berhadapan langsung dengan Domino’s Pizza yang dioperasikan oleh Jubilant FoodWorks, yang saat ini memiliki sekitar 3.480 gerai di India. Persaingan pun dipastikan akan semakin ketat, baik dari sisi jumlah gerai maupun efisiensi operasional.
Kesepakatan merger ini dirancang dengan skema pertukaran saham yang cukup signifikan. Dalam perjanjian tersebut, Devyani akan menerbitkan 177 saham baru untuk setiap 100 saham Sapphire. Selain itu, manajemen memperkirakan sinergi tahunan yang dihasilkan dari penggabungan ini akan mencapai 2,1 miliar hingga 2,25 miliar rupee, atau sekitar 23,34 juta hingga 25,01 juta dolar AS, yang mulai terealisasi penuh pada tahun kedua operasional entitas gabungan. Proyeksi ini menjadi salah satu fondasi utama optimisme pasar terhadap langkah konsolidasi tersebut.
Mengutip Reuters, analis JP Morgan menilai merger ini sebagai “langkah strategis yang disambut baik.” Menurut mereka, konsolidasi antara Devyani dan Sapphire akan menciptakan struktur bisnis yang lebih sederhana, membuka peluang penghematan biaya yang signifikan, serta mempercepat proses pengambilan keputusan. Kondisi ini diyakini akan membantu Devyani meningkatkan daya saingnya, tidak hanya menghadapi para pesaing langsung, tetapi juga melawan tekanan dari platform pengantaran makanan yang semakin agresif di India.
Momentum merger ini juga tidak terlepas dari tantangan besar yang sedang dihadapi industri makanan cepat saji di India. Para pewaralaba tengah bergulat dengan kenaikan biaya operasional, perlambatan pertumbuhan penjualan toko yang sama, serta tekanan margin keuntungan. Di sisi lain, konsumen mulai menahan pengeluaran untuk kebutuhan non-esensial. Tekanan tersebut tercermin dalam kinerja keuangan kedua perusahaan, di mana baik Devyani maupun Sapphire sama-sama mencatatkan kerugian pada kuartal September 2025.
Dalam konteks itulah, merger ini dipandang sebagai upaya bertahan sekaligus bertumbuh. “Dengan satu entitas, jika mereka mampu membuka bahkan setengah dari sinergi yang diharapkan, kita akan melihat perusahaan yang menguntungkan… di mana mereka bisa mengendalikan biaya dengan lebih baik,” kata Akshay D’Souza, seorang konsultan independen barang konsumsi di India. Pernyataan ini menegaskan bahwa efisiensi dan skala menjadi kunci utama keberhasilan penggabungan tersebut.
Sejalan dengan pandangan tersebut, Emkay Global, konsultan keuangan asal India, menilai bahwa bisnis gabungan Devyani dan Sapphire berpotensi menghasilkan pendapatan dan laba operasional yang 50–60 persen lebih tinggi dibandingkan level saat ini. Meski demikian, Emkay juga mengingatkan bahwa margin keuntungan kemungkinan masih akan relatif lemah dalam jangka pendek, sebelum manfaat sinergi sepenuhnya terwujud.
Dengan demikian, merger antara operator KFC dan Pizza Hut ini bukan sekadar penggabungan dua perusahaan, melainkan sebuah langkah strategis untuk membentuk kekuatan baru di tengah dinamika pasar yang semakin menantang. Ke depan, perhatian publik dan pelaku pasar akan tertuju pada sejauh mana entitas baru ini mampu merealisasikan janji sinergi dan menjawab tekanan industri yang kian kompleks. (JT)





