Golden Blood: Golongan Darah Paling Langka di Dunia yang Hanya Dimiliki 50 Orang

by -21 Views

Jakarta, TERBITINDO.COM – Selama ini, masyarakat umum mengenal golongan darah A, B, AB, dan O sebagai tipe darah yang lazim ditemui dalam kehidupan sehari-hari. Keempat golongan darah tersebut menjadi bagian dari sistem medis modern dan dimiliki oleh jutaan manusia di seluruh dunia. Namun, di balik klasifikasi yang terdengar akrab itu, tersimpan sebuah fakta mengejutkan tentang keberadaan golongan darah yang amat langka—begitu langkanya hingga hanya dimiliki oleh sekitar 50 orang di dunia.

Golongan darah superlangka ini dikenal dengan julukan “golden blood” atau darah emas. Julukan tersebut bukan tanpa alasan. Dalam dunia medis, golden blood merujuk pada golongan darah Rh-null, sebuah tipe darah yang tidak memiliki antigen Rhesus (Rh) sama sekali di permukaan sel darah merahnya. Ketidakhadiran antigen inilah yang membuat Rh-null sangat berbeda dibandingkan golongan darah lain yang selama ini dikenal.

Secara ilmiah, golongan darah manusia ditentukan oleh keberadaan antigen, protein, dan gula tertentu yang menempel pada sel darah merah. Antigen-antigen tersebut berperan penting dalam menentukan kecocokan darah saat proses transfusi. Namun pada golongan darah Rh-null, seluruh antigen Rh benar-benar absen. Kondisi ini terjadi akibat mutasi genetik yang sangat jarang. Mengutip NDTV, mutasi tersebut menyebabkan karakteristik darah Rh-null menjadi unik dan tidak dimiliki oleh golongan darah lainnya.

Keunikan ini sekaligus menghadirkan keistimewaan tersendiri. Karena tidak memiliki antigen Rh, darah Rh-null dapat ditransfusikan ke hampir semua golongan darah lain tanpa memicu reaksi imun. Inilah sebabnya pemilik Rh-null kerap disebut sebagai pendonor universal. Dalam situasi darurat medis, darah Rh-null berpotensi menyelamatkan banyak nyawa karena kompatibilitasnya yang sangat luas.

Namun, keistimewaan tersebut menyimpan ironi yang tidak ringan. Di balik kemampuannya mendonorkan darah kepada hampir siapa saja, pemilik golongan darah Rh-null justru berada dalam posisi rentan ketika mereka sendiri membutuhkan transfusi. Mereka hanya dapat menerima darah dari sesama pemilik Rh-null. Mengingat jumlah pemiliknya yang sangat terbatas di dunia, mencari donor yang cocok menjadi tantangan besar, bahkan bisa menjadi persoalan hidup dan mati.

“Jika [pemilik Rh-null] menerima darah dengan antigen berbeda, tubuh akan membentuk antibodi dan bisa menyerang darah donor. Transfusi berikutnya bisa sangat berbahaya,” ujar ahli biologi University of Bristol, Profesor Ash Toye. Pernyataan ini menegaskan betapa sensitifnya sistem imun pemilik Rh-null terhadap darah yang tidak sepenuhnya kompatibel.

Kelangkaan ekstrem golongan darah Rh-null mendorong para peneliti di berbagai belahan dunia untuk mencari solusi jangka panjang. Salah satu upaya yang tengah dikembangkan adalah memproduksi sel darah Rh-null di laboratorium. Beberapa ilmuwan saat ini mencoba menumbuhkan sel darah merah Rh-null dari sel punca yang diprogram ulang. Jika upaya ini berhasil, dunia medis akan memiliki cadangan darah langka yang dapat menyelamatkan banyak nyawa, khususnya bagi para pemilik golden blood.

Keberadaan golongan darah Rh-null menjadi pengingat bahwa tubuh manusia masih menyimpan banyak misteri. Di tengah kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, darah emas ini berdiri sebagai simbol betapa langkanya sesuatu yang sangat berharga—dan betapa pentingnya riset ilmiah untuk menjaga kehidupan manusia. (Jerry Tou)