Upaya Cepat Polisi Selamatkan Pria 22 Tahun dari Aksi Bunuh Diri di Jembatan Sangket-Sambangan

by -76 Views

Peringatan dan Imbauan Kemanusiaan

Jakarta, TERBITINDO.COM – Informasi dalam artikel ini tidak ditujukan untuk menginspirasi siapa pun untuk melakukan tindakan serupa. Bila Anda merasakan gejala depresi dengan kecenderungan berupa pemikiran untuk bunuh diri, segera konsultasikan persoalan ke pihak-pihak yang dapat membantu, seperti psikolog, psikiater, ataupun klinik kesehatan mental. Keselamatan jiwa adalah hal utama, dan bantuan selalu tersedia bagi mereka yang membutuhkan.


Peristiwa Dini Hari di Buleleng

Sebuah peristiwa mengkhawatirkan terjadi di wilayah Buleleng, Bali, pada Selasa (27/1/2026) sekitar pukul 01.00 Wita. Seorang pria berinisial KB (22) diduga mencoba mengakhiri hidupnya di Jembatan Sangket-Sambangan, Desa Sambangan, Kecamatan Sukasada. Aksi tersebut nyaris berujung fatal, namun berhasil digagalkan berkat respons cepat aparat kepolisian yang segera mendatangi lokasi kejadian.

Situasi dini hari yang sunyi berubah menjadi tegang ketika laporan awal diterima oleh pihak Kepolisian Sektor (Polsek) Sukasada. Informasi tersebut segera ditindaklanjuti dengan mengerahkan personel piket menuju tempat kejadian perkara (TKP) demi memastikan keselamatan korban.


Respons Cepat Aparat Kepolisian

Kepala Seksi Hubungan Masyarakat (Kasi Humas) Polres Buleleng, Iptu Yohana Rosalin Diaz, menjelaskan bahwa laporan diterima dalam waktu singkat dan langsung direspons sesuai prosedur. Personel kepolisian bergerak cepat untuk mencegah kemungkinan terburuk yang dapat terjadi sewaktu-waktu.

“Kami menerima informasi dini hari. Setibanya di lokasi, petugas menemukan seorang laki-laki berada di pinggir jembatan dan diduga hendak melakukan percobaan bunuh diri,” kata Yohana saat dikonfirmasi detikBali.

Kondisi korban saat itu dinilai tidak stabil, sehingga pendekatan yang dilakukan pun mengedepankan cara persuasif dan humanis. Petugas berusaha menenangkan KB dan mengajaknya berkomunikasi secara intens, dengan harapan korban bersedia membuka diri mengenai persoalan yang tengah dihadapinya.


Pendekatan Humanis dan Penyelamatan

Meski telah diajak berbincang, KB tetap enggan mengungkapkan permasalahan pribadi yang mendorongnya hingga berada di situasi berbahaya tersebut. Ia hanya memberikan alamat tempat tinggalnya kepada petugas. Proses pendekatan ini tidak berlangsung singkat, melainkan dilakukan dengan penuh kehati-hatian demi menjaga kondisi psikologis korban.

“Upaya pendekatan dilakukan sekitar 40 menit. Karena kondisi korban tidak stabil dan demi mencegah risiko yang lebih besar, petugas mengambil tindakan dengan menjauhkan korban dari lokasi jembatan,” jelas Yohana.

Keputusan tersebut diambil sebagai langkah preventif agar korban tidak kembali membahayakan dirinya sendiri. Dengan pengamanan yang terukur, KB akhirnya berhasil dievakuasi dari area jembatan.


Pendampingan Keluarga dan Pencegahan Berulang

Setelah situasi dinyatakan aman, KB kemudian dibawa pulang dan diserahkan kepada pihak keluarga. Kepolisian tidak hanya berhenti pada proses penyelamatan, tetapi juga memberikan imbauan penting kepada keluarga korban. Keluarga diminta untuk meningkatkan pengawasan serta memberikan pendampingan psikologis yang memadai agar kejadian serupa tidak kembali terulang di kemudian hari.

Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa kepekaan lingkungan sekitar, kecepatan respons aparat, serta dukungan keluarga memiliki peran besar dalam menyelamatkan nyawa dan mencegah tragedi yang lebih besar.