Menjemput Masa Depan dari Seragam Satpam: Ketika Tanggung Jawab Menjadi Jalan Hidup

by -27 Views

NTT, TERBITINDO.COM – Di masa depan, kisah tentang pilihan hidup tidak lagi semata diukur dari gelar akademik atau bangku kuliah yang berhasil diduduki. Akan ada cerita-cerita tentang anak muda yang menjemput masa depannya melalui jalan yang sunyi, namun penuh tanggung jawab. Salah satu kisah itu adalah perjalanan hidup Jems, pemuda asal Pau Bilas, Ruteng, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur, yang sejak usia muda memilih bekerja demi keluarga, alih-alih melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.

Kelak, ketika orang-orang menoleh ke belakang dan melihat perjalanan hidup Jems, mereka akan memahami bahwa keputusannya bukanlah bentuk menyerah pada keadaan, melainkan wujud kedewasaan yang lahir lebih cepat dari usianya. Sejak menamatkan pendidikan SMA, Jems yang kini berusia 22 tahun akan terus dihadapkan pada pertanyaan yang sama: mengapa tidak kuliah seperti teman-temannya? Pertanyaan itu mungkin akan terus terdengar, namun jawabannya telah tertanam kuat dalam kesadaran hidupnya.

Jems tumbuh dan dibesarkan di tengah keluarga petani sederhana. Di Pau Bilas, ia belajar bahwa hidup tidak selalu menyediakan banyak pilihan. Sejak kecil, ia menyaksikan orang tuanya berangkat ke sawah dan kebun sejak pagi hari, pulang menjelang sore dengan tubuh lelah, menghadapi terik matahari, hujan, dan ketidakpastian hasil panen. Gambaran masa kecil itulah yang kelak membentuk cara pandangnya tentang makna kerja keras dan pengorbanan.

Di masa depan, Jems akan mengenang bahwa keinginannya untuk melanjutkan pendidikan sebenarnya tidak pernah padam. Namun realitas ekonomi keluarga memaksanya untuk berpikir lebih rasional. Ia akan menyadari bahwa tidak semua mimpi harus dikejar dalam waktu yang sama. Ada mimpi yang harus ditunda demi tanggung jawab yang lebih mendesak, yakni membantu keluarga bertahan dan melangkah.

Keputusan Jems untuk bekerja sebagai satpam di Rumah Sakit Ben Mboi Ruteng, khususnya di bagian poliklinik rawat jalan, akan menjadi titik balik penting dalam hidupnya. Pilihan itu bukan keputusan spontan, melainkan hasil dari pertimbangan panjang tentang peran apa yang bisa ia ambil bagi keluarganya. Dari pekerjaan itulah, ia akan memperoleh penghasilan tetap yang kelak menjadi penopang kebutuhan rumah tangga orang tuanya di Pau Bilas.

Hari pertama mengenakan seragam satpam akan selalu ia ingat sebagai awal dari perjalanan baru. Di masa depan, ia akan tersenyum mengenang perasaan bangga bercampur gugup saat berdiri di lingkungan rumah sakit, menjalankan tugas dengan penuh tanggung jawab. Di saat yang sama, perasaan minder mungkin akan muncul ketika mendengar cerita teman-temannya tentang dunia kampus dan kehidupan mahasiswa. Namun seiring waktu, perasaan itu akan berubah menjadi pemahaman bahwa setiap orang memiliki lintasan hidup yang berbeda.

Pengalaman bertugas di poliklinik rawat jalan akan membentuk karakter Jems secara perlahan namun pasti. Ia tidak hanya menjaga keamanan, tetapi juga membantu mengatur ketertiban pasien, mengarahkan pengunjung, dan menciptakan rasa aman bagi tenaga medis serta masyarakat. Lingkungan rumah sakit akan menuntutnya untuk bersikap sabar, ramah, dan sigap, nilai-nilai yang kelak menjadi bekal penting dalam kehidupannya.

Di masa depan, Jems akan menyadari bahwa pekerjaan inilah yang mendewasakannya lebih cepat. Ia akan belajar tentang disiplin, ketepatan waktu, tanggung jawab, serta kemampuan mengendalikan emosi. Ia juga akan terbiasa berinteraksi dengan berbagai latar belakang manusia, sebuah pelajaran sosial yang tidak selalu didapatkan di ruang kelas. Pada saat-saat jaga yang tenang, pikirannya akan sering kembali ke kampung halaman, mengingat wajah orang tuanya yang bekerja tanpa lelah, menjadi sumber motivasi yang tak pernah pudar.

Suatu hari nanti, Jems tidak lagi melihat masa lalunya dengan rasa ragu. Ia akan bangga pada pilihan yang pernah ia ambil. Baginya, menjadi satpam di Rumah Sakit Ben Mboi Ruteng bukanlah akhir dari perjalanan, melainkan fondasi awal untuk masa depan yang lebih baik. Ia akan percaya bahwa kesuksesan tidak selalu datang dari jalur yang ramai, tetapi sering kali tumbuh dari ketekunan menjalani peran kecil dengan penuh tanggung jawab.

Masa depan yang diimpikan Jems sederhana namun bermakna. Ia ingin melihat orang tuanya hidup lebih sejahtera, adik-adiknya mengenyam pendidikan yang layak, dan dirinya sendiri menjadi pribadi yang berguna bagi masyarakat. Dengan kerja keras, kejujuran, dan ketekunan, Jems yakin bahwa masa depan itu akan terbangun perlahan, dimulai dari langkah-langkah kecil yang ia ambil hari ini.

Florentina Yunita

Mahasiswa UNIKA St. Paulus Ruteng

Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia