Cahaya yang Tak Pernah Pergi: Kisah Tentang Doa, Pengorbanan, dan Langkah yang Terus Dijaga

by -17 Views

NTT, TERBITINDO.COM – Orang tua adalah segalanya bagiku. Kalimat ini lahir dari perjalanan panjang yang kujalani dengan penuh keterbatasan, harapan, dan doa yang tak pernah putus. Mereka adalah awal dari setiap langkah yang kuambil dan tujuan dari setiap doa yang kupanjatkan. Dalam hidup yang masih sering goyah, ketika kakiku melangkah pelan dan hatiku diliputi keraguan, bayangan wajah orang tua selalu hadir sebagai penguat yang tak pernah gagal.

Di banyak malam sunyi di Ruteng, saat hiruk-pikuk kota perlahan mereda, aku kerap menengadah ke langit. Bulan dan bintang menggantung setia, memantulkan cahaya lembut di antara gelap. Keindahan alam dalam kesunyian itu seolah mengajarkanku tentang kesabaran—bahwa gelap bukanlah akhir, melainkan jeda sebelum cahaya datang. Dari sanalah mimpi-mimpi kecil tumbuh menjadi cita-cita besar, mengubah rasa takut menjadi keberanian, seperti fajar yang selalu membawa kabar baik setiap pagi dan senja yang menutup hari dengan keindahan di akhir cerita.

Perjalanan hidup ini bukan tanpa luka. Ada hari-hari ketika langkah terasa berat dan keyakinan nyaris runtuh. Namun waktu mengajarkanku bahwa setiap proses memiliki maknanya sendiri. Setiap pagi menghadirkan harapan baru, dan setiap senja menegaskan bahwa lelah pun bisa berujung pada keindahan. Di antara naik-turun itu, aku belajar berdamai dengan keadaan, sambil terus menjaga mimpi agar tetap menyala.

Di balik semua impian, perjuangan, dan langkah-langkah yang masih tertatih ini, berdiri dua sosok luar biasa yang tak pernah lelah memberi. Ayahku, Romanus Dampul, dan ibuku, Elisabet Simat, adalah penopang utama dalam hidupku. Mereka adalah donatur sejati yang dengan sepenuh hati mengorbankan waktu, tenaga, dan perasaan demi masa depanku, tanpa pernah meminta balasan apa pun.

Seluruh cinta, doa, dan kasih sayang telah mereka berikan tanpa batas. Bahkan ketika lelah jelas tergambar di wajah mereka, senyum itu tetap mereka persembahkan untukku. Senyum yang bukan lahir dari kepura-puraan, melainkan dari kebanggaan yang tumbuh diam-diam atas setiap proses yang kujalani. Dalam diam, mereka menguatkan; dalam keterbatasan, mereka memberi lebih.

Mereka mungkin tak selalu hadir dengan kata-kata indah atau nasihat panjang, tetapi ketulusan mereka berbicara melalui pengorbanan yang tak terhitung jumlahnya. Dari ayah aku belajar tentang keteguhan dan tanggung jawab, sementara dari ibu aku belajar tentang kesabaran dan cinta tanpa syarat. Dari merekalah aku memahami arti keikhlasan—tentang memberi tanpa berharap kembali, tentang mencintai tanpa syarat.

Setiap langkah yang kuambil hari ini adalah hasil dari doa yang tak pernah mereka hentikan. Setiap mimpi yang berani kuperjuangkan adalah cerminan dari harapan besar yang mereka titipkan padaku. Dan pada akhirnya, apa pun yang kelak kucapai, semua itu akan selalu kembali kepada mereka—orang tua yang menjadi cahaya dalam gelapku, kekuatan dalam lemahnya diriku, dan alasan terbesarku untuk terus melangkah dan berjuang hingga akhir.

Nementus Jampur
Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia