Jakarta, TERBITINDO.COM – Eskalasi konflik antara Rusia dan Ukraina kembali memakan korban serta meninggalkan kerusakan serius di jantung ibu kota Ukraina. Serangan besar-besaran yang dilancarkan Rusia ke wilayah Ukraina menyebabkan sedikitnya 20 bangunan perumahan di Kyiv dan daerah pinggirannya mengalami kerusakan. Tidak hanya fasilitas warga sipil, gedung Kedutaan Besar Qatar di Kyiv juga dilaporkan terdampak akibat serangan drone Rusia.
Serangan ini terjadi setelah Moskow secara terbuka menolak proposal negara-negara Barat yang bertujuan mengakhiri invasi Rusia ke Ukraina, sebuah konflik yang kini telah berlangsung hampir empat tahun lamanya. Penolakan tersebut menjadi sinyal kuat bahwa jalan diplomasi kembali menemui jalan buntu, sementara dampaknya langsung dirasakan oleh masyarakat sipil di lapangan.
Kyiv menjadi wilayah yang paling parah merasakan gempuran terbaru Rusia. Serangan tersebut menewaskan empat orang dan melukai sedikitnya 25 lainnya, menambah panjang daftar korban dalam konflik berkepanjangan ini. Ledakan dan puing-puing bangunan menyisakan suasana mencekam di sejumlah distrik ibu kota.
“Dua puluh bangunan perumahan rusak,” kata Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky. Ia juga mengungkapkan bahwa “gedung Kedutaan Qatar rusak tadi malam akibat drone Rusia”.
Zelensky menyoroti ironi dari serangan tersebut dengan mengingatkan peran Qatar dalam upaya kemanusiaan selama konflik. “Qatar, sebuah negara yang begitu banyak melakukan mediasi dengan Rusia untuk mengamankan pembebasan tawanan perang dan warga sipil yang ditahan di penjara-penjara Rusia,” ujar Zelensky, dilansir kantor berita AFP, Jumat (9/1/2026).
Dalam penjelasannya, Zelensky menyebut Rusia melancarkan serangan dengan kekuatan besar. Ukraina diserang menggunakan 13 rudal balistik, termasuk jenis Oreshnik, 22 rudal jelajah, serta 242 unit drone yang diarahkan ke berbagai sasaran strategis dan sipil.
Sejumlah blogger militer Rusia mengklaim bahwa rudal Oreshnik digunakan untuk menghantam depot gas utama di wilayah Lviv, Ukraina barat. Jika benar, serangan tersebut memperlihatkan upaya sistematis untuk melumpuhkan infrastruktur energi Ukraina di tengah musim dingin yang ekstrem.
Tragedi juga menimpa para petugas medis. Zelensky mengungkapkan bahwa seorang petugas ambulans termasuk di antara korban tewas dalam serangan di Kyiv, saat sedang menjalankan tugas kemanusiaan.
Menteri Dalam Negeri Ukraina, Igor Klymenko, menyatakan bahwa Rusia “berulang kali menyerang gedung-gedung tinggi pada saat petugas penyelamat dan medis sedang bekerja di lokasi”, yang ia sebut sebagai “serangan yang disengaja terhadap layanan darurat.”
Menurut Klymenko, ibu kota Ukraina dan wilayah sekitarnya menjadi kawasan yang “paling menderita” akibat gelombang serangan tersebut. Selain bangunan perumahan, 20 bangunan non-perumahan di Kyiv juga mengalami kerusakan parah.
“Hampir semua distrik di wilayah Kyiv berada di bawah serangan musuh,” kata Klymenko, menggambarkan luasnya jangkauan serangan yang terjadi hampir tanpa jeda.
Situasi semakin memprihatinkan karena serangan ini berlangsung di tengah cuaca ekstrem. Suhu di Ukraina dilaporkan turun hingga di bawah -10 derajat Celcius, sementara puluhan ribu warga terpaksa hidup tanpa pasokan listrik.
“Tujuan musuh yang tidak manusiawi adalah untuk membuat jutaan orang tanpa penerangan, pemanas, dan air di tengah musim dingin yang membekukan,” tegas Klymenko.
Serangan ini kembali menegaskan bahwa konflik Rusia-Ukraina tidak hanya menjadi pertarungan militer dan politik, tetapi juga krisis kemanusiaan yang dampaknya semakin luas dan mendalam, terutama bagi warga sipil yang terjebak di tengahnya. (JT)
