Lompatan Besar Kemandirian Pangan: Stok Beras RI Tertinggi Sepanjang Sejarah, Swasembada Kian Nyata

by -26 Views

Jakarta, TERBITINDO.COM – Indonesia menorehkan capaian bersejarah dalam sektor pangan. Badan Pangan Nasional (Bapanas) menyatakan bahwa Indonesia telah mencapai swasembada beras, sebuah tonggak penting yang ditandai dengan melonjaknya stok awal beras nasional pada tahun 2026 hingga mencapai 12,529 juta ton. Angka ini bukan sekadar statistik, melainkan representasi nyata dari kemandirian pangan nasional yang bertumpu pada produksi petani dalam negeri.

Deputi Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, I Gusti Ketut Astawa, menegaskan optimisme pemerintah terhadap kondisi perberasan nasional. Saat dikonfirmasi di Jakarta, Sabtu, ia menyampaikan, “Pemerintah optimistis ketersediaan beras ini sangat kuat. Indonesia telah mencapai swasembada beras.” Pernyataan ini memperkuat keyakinan bahwa upaya panjang dalam menjaga ketahanan pangan kini membuahkan hasil konkret.

Ketut menjelaskan bahwa stok awal 2026 berasal dari sisa persediaan beras nasional tahun 2025 atau carry over stock, yang mengalami peningkatan eksponensial. Carry over stock dari 2025 ke 2026 tersebut menjadi salah satu indikator paling kuat bahwa swasembada beras benar-benar telah tercapai. Dalam kurun dua tahun terakhir, lonjakan stok ini mencerminkan konsistensi produksi domestik yang semakin solid.

Lebih lanjut, Bapanas melalui Proyeksi Neraca Pangan Nasional Tahun 2026—yang disusun berdasarkan data dan informasi dari berbagai kementerian dan lembaga terkait—mencatat bahwa stok beras awal tahun 2026 berada pada level yang sangat tinggi dan dinilai lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat. Yang lebih membanggakan, Ketut menekankan, “Terlebih sumber stok beras sepanjang 2025 tidak ada yang berasal dari luar negeri.” Dengan kata lain, seluruh stok tersebut murni hasil produksi dalam negeri.

Dari total 12,529 juta ton stok beras nasional di awal 2026, sebanyak 3,248 juta ton merupakan Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang dikelola oleh Perum Bulog. Sementara itu, sisanya tersebar di berbagai lapisan rantai distribusi, mulai dari rumah tangga produsen dan konsumen, penggilingan padi, pedagang, hingga sektor horeka (hotel, restoran, dan katering). Distribusi yang merata ini semakin memperkuat stabilitas pasokan di lapangan.

Jika ditarik ke belakang, peningkatan stok beras nasional ini menunjukkan lompatan yang luar biasa. Dalam dua tahun terakhir, stok awal beras melonjak hingga 203,05 persen dibandingkan stok awal tahun 2024 yang hanya berada di angka 4,134 juta ton. Bahkan jika dibandingkan dengan stok awal 2025 yang mencapai 8,402 juta ton, stok awal 2026 masih mencatatkan kenaikan signifikan sebesar 49,12 persen.

Menurut Ketut, kondisi stok beras nasional yang sangat tinggi dan aman ini tidak terlepas dari kerja keras para petani serta dukungan penuh dari Kementerian Pertanian dan seluruh pemangku kepentingan. Sejalan dengan arahan Kepala Bapanas Andi Amran Sulaiman, pemerintah pun memastikan tidak akan melakukan impor beras konsumsi pada tahun 2026. “Indonesia tidak perlu impor beras konsumsi di tahun 2026. Ini melanjutkan komitmen pemerintah dalam mendukung petani Indonesia karena tahun 2025 juga tidak ada impor,” ujar Ketut.

Keputusan strategis tersebut ditetapkan saat pemerintah menyusun Neraca Komoditas Tahun 2026. Dalam forum yang digelar di Kementerian Koordinator Bidang Pangan, dipastikan tidak ada kesepakatan mengenai kuota impor beras umum untuk 2026, sebagaimana kebijakan serupa yang telah diterapkan pada 2025. Tak hanya itu, impor beras sebagai bahan baku industri juga ditiadakan. Sebagai gantinya, pemerintah mendorong pelaku usaha nasional untuk mengoptimalkan bahan baku lokal seperti beras pecah dan beras ketan pecah.

Secara terpisah, Kepala Bapanas sekaligus Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyampaikan keyakinannya bahwa ketersediaan beras nasional berada dalam kondisi yang sangat aman. Bahkan, ia menegaskan stok beras mencukupi hingga momen Ramadhan dan Lebaran 2026. “Inilah stok tertinggi di akhir tahun selama merdeka. (Jadi) bukan aman, ada sangatnya, (stok kita) sangat aman. Sekarang tanpa impor, stok kita (CBP) lebih dari 3 juta ton. Itu tertinggi sepanjang sejarah. Beras kita surplus. Jadi tidak ada masalah sampai Ramadhan. Tidak ada masalah. Semua aman,” kata Amran dengan nada optimistis.

Amran juga menegaskan bahwa pada tahun 2026, sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto, pemerintah akan terus menjaga keberpihakan kepada petani dalam negeri. “Petani dalam negeri kita tidak boleh rugi. Mereka harus sejahtera. Hasil kerja keras mereka harus dapat disalurkan secara luas bagi kebutuhan masyarakat Indonesia,” tegasnya.

Dengan stok awal 2026 sebesar 12,529 juta ton, ketersediaan beras nasional diperkirakan mampu memenuhi kebutuhan hampir lima bulan ke depan. Proyeksi ini sejalan dengan asumsi konsumsi beras nasional bulanan sebesar 2,591 juta ton. Ditambah lagi, dengan proyeksi produksi beras tahun 2026 yang mencapai 34,7 juta ton, stok akhir tahun 2026 diperkirakan akan semakin kokoh di angka 16,194 juta ton. Sebuah fondasi kuat bagi ketahanan pangan Indonesia ke depan. (Jerry Tou)